Jumat, 19 April 2013

Dampak Flu Burung terhadap Industri Perunggasan

  


PENDAHULUAN

     Virus Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) H5N1 menjadi masalah kesehatan global karena memiliki evolusi yang cepat, genetik yang beranekaragam, rentangan inang yang luas, cepat ditularkan di antara populasi unggas, dan berpotensi menular kepada manusia (Zhou et al., 2012). H5N1 endemik pada unggas di banyak negara dan menjadi ancaman pandemik yang berarti. Virus H5N1 memiliki variasi genetik yang berkaitan dengan virulensi, resistensi obat, dan adaptasi terhadap inang baru. Virus H5N1 pertama kali dideteksi pada tahun 1997. Wabah H5N1 pertama pada unggas terjadi di China tahun 1996 tetapi kasus pertama pada manusia pertama kali dideteksi di Hongkong pada tahun 1997. Infeksi H5N1 meluas di Asia Timur dan Asia Tenggara pada Desember 2003, secara cepat mempengaruhi 7 negara, yaitu Kamboja, China, Indonesia, Jepang, Laos, Thailand, dan Vietnam. Virus ini endemik pada unggas dan telah mengakibatkan infeksi zoonosis berulang pada manusia (Gutierrez et al., 2009).  

PEMBAHASAN

Perkembangan dan Penyebaran Virus H5N1

        Unggas air (itik dan angsa) adalah reservoir alami bagi virus influenza A seperti flu burung karena semua 16 hemaglutinin (HA) dan 9 neuraminidase (NA) subtipe virus influenza A diisolasi dari inang unggas air (Kim et al., 2008). Virus H5N1 awalnya berkembang pada itik lokal China yang memiliki ketahanan terhadap virus ini, namun kemudian tersebar ke negara-negara Asia lainnya melalui burung yang bermigrasi dan perdagangan unggas (Gutierrez et al., 2009).
        Virus HPAI H5N1 memiliki gen HA dan NA yang diturunkan dari prototip virus A/Gs/Gd/1/96 dimana gen-gennya mengkodekan 6 protein internal (PB2, PB1, PA, NP, M, dan NS) (Duan et al., 2008). Ada 10 clade (kelompok genetik) berbeda dari virus H5N1, tergantung pada evolusi gen hemaglutinin H5 (WHO, 2009).
        Selama 2003 – 2006 ada dua clade yang tersebar di Asia Tenggara, yaitu clade 1 dan 2.Clade 1 menyebabkan wabah pada unggas dan manusia di Thailand, Vietnam, Malaysia, Laos, dan Kamboja. Clade 2 terdapat di Indonesia, sejak tahun 2003 subclade  2.1.1 menyerang ayam, sedangkan subclade 2.1.2 dan 2.1.3 menyerang ayam dan manusia.Subclade 2.3.2 menyerang ayam dan burung migran di Vietnam pada tahun 2005, subclade2.3.4 menyerang unggas di Laos, Vietnam, Thailand, dan Malaysia. Deteksi manusia menjadi inang bagi virus ini yaitu pertama kali di Vietnam pada tahun 2007 (Le et al., 2007).
Vietnam dan Indonesia merupakan negara yang mengalami kasus wabah flu burung yang terparah, baik pada unggas maupun manusia. Virus H5N1 yang mewabah di Indonesia sampai tahun 2009 adalah dari clade 2.1 yang bersifat lebih patogen dari clade lainnya, yaitu clade 1 (Kamboja, Thailand, Vietnam) dan clade 2.3 (China) (Gutierrez et al., 2009).Subclade 2.3.2 yang menyerang itik mulai mewabah di Indonesia sejak tahun 2012. Virulensi virus subclade 2.3.2 sama dengan virus subclade 2.1.3, namun berbeda gejala dan inang (Balitbang Kementan, 2013).  

Gejala Infeksi Virus H5N1

            Virus subclade 2.1.3 yang menyerang ayam pada tahun 2009 menyebabkan gejala seperti jengger dan pial yang bengkak dan berwarna kebiruan, pendarahan merata pada kaki unggas berupa bintik-bintik merah (ptekhi), adanya cairan di mata dan hidung serta timbul gangguan pernafasan, keluarnya cairan jernih hingga kental dari rongga mulut, diare akut, cangkang telur lunak, dan tingkat kematian yang tinggi (mendekati 100%) dalam 2 - 7 hari. Virus subclade 2.3.2 yang menyerang itik pada tahun 2012 menyebabkan gejala leher terputar, kejang, sulit berdiri, menurunnya konsumsi pakan, dan mata berwarna keputihan, dan penurunan produksi telur secara tiba-tiba. Sementara itu, gejala klinis pada manusia yang disebabkan oleh infeksi subclade 2.1.3 dan 2.3.2 tidak berbeda, yaitu demam tinggi, sakit tenggorokan, batuk, sekresi mukus, nyeri otot, sakit kepala, lemas, dan sesak nafas. Dalam waktu singkat gejala dapat menjadi kronis berupa pneumonia, kematian terjadi apabila tidak ditangani dengan baik. Masa inkubasi virus influenza bervariasi antara 1 – 7 hari (BIN, 2013).

Dampak Ekonomis dari Wabah Flu Burung di Indonesia

      Virus flu burung subclade 2.3.2 telah menyebar di 69 kabupaten/kota di 11 provinsi di Indonesia sejak Oktober 2012 hingga awal Januari 2013. Penyebaran virus ini relatif cepat, pada 26 Desember 2012 virus tersebut menyebabkan kematian 150.000 ekor itik di 50 kabupaten/kota di 9 provinsi (Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Yogyakarta, Banten, Lampung, Riau, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Selatan). Angka kematian itik meningkat menjadi 242.000 ekor pada 10 Januari 2013 di Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan Bali (BIN, 2013).
      Menurut Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia (2013), hingga minggu pertama Januari 2013 kerugian akibat ternak mati yaitu sebesar Rp 17,5 miliar. Potensi kerugian akibat kehilangan produksi telur  yaitu sebesar Rp 114 miliar, setara dengan 95,8 juta butir telur per tahun. Populasi itik di Indonesia yaitu sekitar 50 juta ekor. Dengan rata-rata kepemilikan 100 ekor per peternak, diperkirakan ada 500.000 peternak dan keluarganya yang merasakan dampak ekonomis dari wabah flu burung, jumlah ini belum menyertakan pelaku usaha di bidang pengolahan telur menjadi telur asin (Prabowo, 2013).

 Kebijakan Pemerintah dalam Menangani Kasus Flu Burung

   Menurut Kepala Balitbang Pertanian Kementan, Haryono (2013) pemerintah telah meningkatkan anggaran penanggulangan virus flu burung tahun ini dari Rp 500 juta menjadi Rp 800 juta.  Menurut Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Kementan Bess Tiesnamurti (2013) tidak perlu ada penanganan khusus bagi itik atau ayam yang terserang virus flu burung subclade 2.3.2. Penanganan kasus ini sama dengan kasus flu burung sebelumnya, yaitu dengan delapan strategi pengendalian, antara lain biosekuriti, vaksinasi, pengawasan lalu lintas, restrukturisasi perunggasan, kewaspadaan publik, dan peraturan perundangan. 
      Pemerintah telah memerintahkan kepada seluruh instansi dan asosiasi terkait peternakan unggas untuk melakukan depopulasi itik akibat infeksi virus H5N1. Depopulasi merupakan pengurangan populasi dengan cara memusnahkan unggas hidup yang berada di wilayah terjangkitnya virus flu burung dengan radius 1 km. Menurut Direktur Kesehatan Hewan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Pujiatmoko (2013), pemerintah mewajibkan depopulasi itik secepatnya di peternakan lokal untuk mencegah penyebaran virus flu burung pada itik yang telah menjangkiti beberapa daerah. Kementerian Pertanian juga berencana untuk memproduksi satu juta unit vaksin flu burung pada Februari 2013 untuk memenuhi kebutuhan vaksin dalam negeri.
   Sejumlah strategi yang bersifat praktis telah diusulkan oleh pemerintah, beberapa di antaranya sedang dalam pemrosesan meskipun surat keputusan penetapan status wabah belum dikeluarkan oleh Menteri Pertanian Suswono hingga 9 Januari 2013. Hal ini disebabkan karena status wabah flu burung pada unggas sudah dicabut Menteri Pertanian Anton Apriyantono tahun 2005 bersamaan dengan penghapusan peran otoritas veteriner pada eselon I. Otoritas veteriner mengacu UU No 18/2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, merupakan kelembagaan yang dibentuk pemerintah dalam pengambilan keputusan tertinggi yang bersifat teknis kesehatan hewan. Dalam setiap pengambilan kebijakan, lembaga ini harus melibatkan keprofesionalan dokter hewan dengan mengerahkan semua lini kemampuan profesi mulai dari mengidentifikasi masalah, menentukan kebijakan, mengoordinasikan pelaksanaan kebijakan, sampai dengan mengendalikan teknis operasional di lapangan. Kelembagaan pemerintah yang dimaksud bisa berbentuk direktorat jenderal, yang dipimpin oleh pejabat pemerintah eselon 1. Otoritas veteriner sempat dikembalikan pada profesi dokter hewan, namun kembali dihilangkan. Tidak ada pejabat eselon 1 yang memiliki kewenangan otoritas veteriner di Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian saat ini meskipun UU No 18/2009 mewajibkan hal tersebut. Pejabat di bawah eselon 1 tidak cukup karena kebijakan veteriner tidak hanya mengikat secara nasional, tetapi juga internasional terutama karena adanya era perdagangan bebas (Prabowo, 2013).

KESIMPULAN

      Berdasarkan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa patogenisitas virus H5N1 yang mulai menyebar di Indonesia pada tahun 2003, 2009 dan 2012 sama meskipun berbedasubclade, inang, dan gejala. Penyebaran flu burung berdampak besar bagi masyarakat dari segi ekonomis. Penanganan kasus flu burung di Indonesia pada tahun 2012 – 2013 belum didukung oleh kebijakan pemerintah yang memadai meskipun sudah ada undang-undang yang mengatur hal tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2013. Flu Burung pada Itik Ganas. http://megapolitan.kompas.com.          /read/2013/01/03/03422438/Flu.Burung.pada.Itik.Ganas (3 Januari 2013).

  Inte    Badan Intelijen Nasional. 2013. Waspadai Penularan Virus Flu Burung ke Manusia. http://www.bin.go.id/awas/detil/185/4/10/01/2013/waspadai-penularan-virus-flu-burung-ke-manusia (10 Januari 2013).

            Duan, L., J. Bahl, G. Smith, J. Wang, D.Vijaykrishna, L. Zhang, J. Zhang, K. Li, X. Fan, C. Cheung, K. Huang, L. Poon, K. Shortridge, R.Webster, J. Peiris, H. Chen, Y. Guan. The development and genetic diversity of H5N1 influenza virus in China, 1996-2006. Virology 380 : 243-254.

Gutierrez, R.A., M.J. Naughtin, S.V. Horm, S. San, dan P. Buchy. 2009. A(H5N1) virus evolution in South  East Asia. Viruses 1 : 335-361.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar di sini, tapi gunakan bahasa yang sopan & jangan menyinggung suku, agama / ras