Minggu, 14 Juli 2013

BALANCED RATION, PROTEIN SUPPLEMENT, TDN

BALANCED RATION


Definisi Balanced Ration

             Balanced ration  atau ransum seimbang adalah ransum yang diberikan selama 24 jam yang mengandung semua zat nutrien (jumlah dan macam nutriennya) dan perbandingan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi sesuai dengan tujuan pemeliharaan ternak (Chuzaemi, 2002). Ransum seimbang merupakan ransum yang dibuat sesuai jenis, umur, kondisi tubuh ternak serta produksinya. Ransum seimbang untuk pedet berbeda dengan ransum seimbang untuk sapi pejantan dalam usaha pembibitan. Ransum seimbang untuk sapi perah dengan produksi susu 15 liter per hari berbeda dengan ransum sapi perah yang menghasilkan susu 8 liter per hari. Bahan pakan penyusun ransum seimbang diatur sedemikian rupa agar kandungan nutriennya proporsional dan mampu memenuhi kebutuhan ternak (Willard, 1902).
            Ransum seimbang harus menyediakan protein, energi, mineral dan vitamin dari berbagai bahan pakan dalam jumlah yang sesuai untuk menghasilkan kesehatan ternak dan performans yang optimal. Pemberian pakan yang tidak seimbang akan menyebabkan produksi yang rendah dan tidak sesuai potensi genetiknya, terhambatnya pertumbuhan, reproduksi yang buruk, peningkatan risiko penyakit metabolik, umur produksi yang lebih singkat, tingginya polusi dari manure yang dihasilkan di lingkungan, serta keuntungan yang rendah bagi peternak (FAO, 2012).

 Penyusunan Balanced Ration
Jenis bahan pakan yang digunakan dalam ransum seimbang

            Pengetahuan tentang kualifikasi bahan pakan diperlukan untuk menyusun ransum seimbang. Penyusunan ransum seimbang yang sesuai dengan kebutuhan ternak, diharapkan akan dapat menghasilkan produksi yang optimal. Ransum yang seimbang sesuai dengan kebutuhan ternak merupakan syarat mutlak dihasilkannya produktivitas yang optimal. Penyusunan ransum tidak boleh merugikan peternak, misalnya peningkatan berat badan yang tidak dapat memenuhi target, salah pemberian pakan karena terlalu banyak dalam memperkirakan kandungan nutrien pakan ataupun karena adanya zat anti nutrisi (Umiyasih dan Anggraeny, 2007).
            Untuk menyusun ransum seimbang yang dapat memenuhi kebutuhan nutrien sesuai dengan tujuan pemeliharaan dan status fisiologis ternak diperlukan empat tahapan, yaitu menyiapkan tabel kebutuhan zat nutrien, menyiapkan tabel komposisi/kandungan nutrien bahan pakan, menyiapkan bahan pakan, formulasi ransum, dan pencampuran bahan pakan (Suprijatna et al., 2005; Umiyasih dan Anggraeny, 2007).
            Tabel kebutuhan zat nutrien yang banyak digunakan adalah tabel National Research Council (NRC) dan tabel Kearl. Kebutuhan nutrien dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain: tingkat pertumbuhan (status fsiologis); ukuran tubuh ternak, lingkungan, keturunan, penyakit, parasit, jenis ternak, ketidakserasian pakan dan kekurangan nutrien. Kebutuhan zat nutrien ini dinyatakan dengan kandungan energi, protein, vitamin dan mineral (Tillman et al., 1998). Untuk sapi potong terdapat standar yang mudah untuk menghitung kebutuhan pakan, yaitu kebutuhan bahan kering (BK) pakan/ekor/hari diperkirakan sebanyak 2,8 – 3 % BB (Kearl, 1982).
            Ransum seimbang selain harus dapat memenuhi kebutuhan zat nutrien ternak harganya juga harus murah. Oleh sebab itu sebaiknya menggunakan bahan pakan lokal yang tersedia di tempat. Hindari atau minimalkan bahan pakan yang berasal dari luar daerah yang pada umumnya mahal karena ada tambahan biaya transport; namun bisa digunakan bila memang harganya murah. Hal lain yang harus dipertimbangkan adalah penggunaan bahan pakan utama yang berasal dari impor sebaiknya dibatasi. Sebanyak 40%-60% kebutuhan jagung untuk pakan, 60 – 70 % tepung ikan dan 100% bungkil kedelai masih berasal dari impor. Optimalisasi penggunaan bahan pakan pertanian, perkebunan maupun agroindustri diharapkan selain menurunkan biaya ransum juga mampu menghasilkan produktivitas secara optimal (Umiyasih dan Anggraeny, 2007).
            Ada beberapa metode yang digunakan dalam formulasi ransum, yaitu pearson square method, trial and error method, serta formulasi dengan program komputer (software) Pearson square method adalah metode penyusunan pakan yang berasal dari perhitungan 2 macam bahan atau kelipatannya (Suprijatna et al., 2005). Least cost formulation adalah penyusunan ransum ekonomis dengan dasar linear programming. Metode trial and error dapat dilakukan peternak dengan cara mengubah – ubah komposisi (persentase) bahan pakan dalam ransum dengan mempertimbangkan kriteria rasional, ekonomis dan aplikatif  (Umiyasih dan Anggraeny, 2007). Tersedia pula beberapa software atau program yang dapat digunakan untuk formulasi ransum seperti MIXID, WinFeed, Feed Mania, dan sebagainya. Pencampuran bahan pakan dapat dilakukan secara manual atau dengan mesin (mixer) dari bahan pakan yang persentasenya paling sedikit hingga ke bahan pakan yang persentasenya paling besar.

PROTEIN SUPPLEMENT
 
Definisi Protein Supplement
           
            Menurut Heldt (1998), suplemen digolongkan sebagai suplemen protein kasar jika ditambahkan pada pakan hijauan berkualitas rendah, yaitu mengandung protein kasar kurang dari 7%. Jika tujuannya adalah untuk mengoptimalkan konsumsi dan pencernaan hijauan berkualitas rendah, suplemen harus mengandung lebih dari 30% protein kasar, meskipun suplemen yang mengandung protein kasar kurang dari 30% juga bisa memberikan sedikit peningkatan konsumsi hijauan.
            Suplemen protein tersedia dalam berbagai bentuk. Bahan pakan dan pakan komersial mengandung  protein kasar kurang dari 10% sampai lebih dari 60%. Protein kasar dapat berasal dari sumber protein alami, NPN (non protein nitrogen), atau campuran keduanya. Untuk ruminansia dapat diberikan suplemen protein by pass, yaitu protein yang dapat langsung dicerna di usus ternak tanpa harus didegradasi oleh mikroba rumen terlebih dahulu (Mathis, 1997).
            Non protein nitrogen (NPN) dalam bentuk urea adalah sumber protein kasar yang paling murah. Urea dapat digunakan oleh mikroba rumen sebagai sumber nitrogen dan sepenuhnya dapat didegradasi di rumen, namun sifatnya sangat tidak palatabel dan harus digunakan seperlunya. Urea memiliki kandungan nitrogen yang tinggi, ekuivalen protein pada urea adalah 290% (1 pon urea sebanding dengan 2,9 pon protein berdasarkan kandungan nitrogennya) (Mathis, 1997). Menurut Woods (1997), konsentrasi urea yang lebih tinggi dalam suplemen protein mengurangi palatabilitas suplemendan menekan konsumsi serta performans ternak. Suplemen protein yang mengadung urea sebaiknya diberikan beberapahari sekali, untuk sapi laktasi kandungan urea tidak boleh melebihi 15% dari total protein terdegradasi dalam rumen.

Sumber Protein Supplement

            Suplemen protein dapat berasal dari hewan, tumbuhan, atau sintetik. Suplemen protein yang berasal dari hewan, kecuali whole milk yang kering dan susu skim yang kering, semuanya mengandung protein kasar lebih dari 47%, sedangkan yang berasal dari tanaman mengandung protein kurang dari 47% kecuali minyak kacang kedelai yang mempunyai kadar protein 49%. Suplemen protein dapat diberikan sebagai sumber protein dalam ransum, apabila kandungan proteinnya rendah. Penggunaan suplemen protein pada ternak adalah untuk pembentukan tubuh, penurunan berat badan atau untuk meningkatkan kebutuhan. Kendala yang sering dihadapi dalam penyusunan ransum terutama ransum unggas adalah kurangnya kandungan asam amino, untuk itu perlu ditambahkan asam amino esensial untuk melengkapi (Hartadi, 1991), misalnya suplementasi L-lisin, DL-metionin, L-treonin yang merupakan asam amino sintetik.
            Sebagian besar rerumputan tidak mengandung cukup protein untuk menopang pertumbuhan ternak ruminansia yang baik. Suplemen protein, misalnya jerami kacang tanah dan dedak padi, banyak tersedia pada petani, juga dapat diperoleh dalam bentuk pakan konsentrat atau bahan tunggal misalnya tepung ikan. Bagi petani kecil sumber-sumber protein ini seringkali tidak tersedia atau terlalu mahal. Alternatif sumber protein pada petani kecil adalah hijauan legum, yang dapat diberikan dalam bentuk segar atau kering, misalnya sebagai hay atau tepung daun. Pakan yang mempunyai komposisi daun legum 10-30% dianjurkan untuk ternak ruminansia. Penambahan daun gamal (Gliciridia sepium) sebanyak 10% saja mampu menaikkan bobot badan dua kali lipat. Pemberian lebih dari 30% hanya menghasilkan pertambahan bobot badan yang tidak begitu berarti. Suplementasi legum akan bermanfaat bagi kesehatan ternak, juga akan meningkatkan konsumsi pakan dan produksi susu induk sapi laktasi sehingga meningkatkan livability dan pertumbuhan anak yang dilahirkan. Suplementasi ransum induk domba dengan daun legum sebanyak 25% meningkatkan bobot lahir anak, jumlah anak yang bertahan hidup, don pertumbuhan anak. Pemberian legum sebanyak 50% dari ransum tidak memberikan manfaat tambahan (ACIAR, 2012).
soybean meal

fish meal

legume

metionin sintetik


TDN

Definisi TDN

            Total Digestible Nutrient (TDN) adalah total energi zat makanan pada ternak yang  disetarakan dengan energi dari karbohidrat, dapat diperoleh secara uji biologis ataupun perhitungan menggunakan data hasil analisis proksimat. TDN digunakan untuk mengukur kandungan energi dari bahan-bahan makanan. TDN merupakan satuan energi yang berdasarkan seluruh nutrisi  pakan yang tercerna, sehingga nilai TDN hampir sama dengan energi dapat dicerna (DE). Perbedaannya terletak pada cara pengukurannya, dimana nilai DE bahan pakan ditetapkan dengan jalan membakar sampel bahan pakan dan juga feses dalam bom kalorimeter (Sutardi, 1980).
            Parakkasi (1983) menyatakan bahwa secara umum nilai Total Digestible Nutrient (TDN) suatu bahan makanan sebanding dengan energi dapat dicerna,  bervariasi sesuai dengan jenis bahan makanan atau ransum. Kadar TDN dari  makanan dapat dinyatakan sebagai suatu persentase dan dapat dideterminasi hanya pada percobaan digesti. Kadar TDN bahan makanan umumnya berhubungan terbalik  terhadap kadar serat kasarnya. Kelemahan penggunaan TDN sebagai satuan energi adalah tidak menghitung hilangnya zat-zat nutrisi yang dibakar saat metabolisme dan energi panas yang timbul saat mengkonsumsi pakan (Anggorodi, 1994).

Cara Menghitung TDN

            Total nutrient tercerna (TDN) untuk setiap ternak dapat dihitung dari rata-rata Digestible Energy (DE), ME, atau dari koefisien cerna, yaitu sebagai berikut:
TDN (%) =  (protein tercerna dalam % x 1) + (serat kasar tercerna dalam % x 1) + (BETN tercerna dalam % x 1) + (ekstrak eter tercerna dalam % x 2.25)
             Satuan TDN adalah persen atau dalam satuan berat (kg dan lains sebagainya). Lemak dapat dicerna harus dikalikan dengan 2,25 karena nilai energinya 2,25 kali besar daripada protein ataupun karohidrat. Seperti diketahui nilai kalori dari setiap gram protein, karbohidrat dan lemak masing-masing adalah 5,6, 4 dan 9 kkal
Menurut Hartadi et al. (1990) , rumus untuk menghitung TDN adalah sebagai berikut:
TDN(%) =  37,937 – 1,018 (SK) – 4,886 (LK) + 0,173(BETN) + 1,042(PK) + 0,015(SK)2 - 0,058(LK)2 + 0,008(SK)(BETN) + 0,119(LK)(BETN) + 0,038(LK)(PK) + 0,003(LK)2 (PK)

Nilai TDN untuk kuda dihitung dari DE berdasarkan rumus menurut Fonnesbeck et al. (1967), yaitu TDN (%) = 20,35 x DE (Mcal/kg) + 8,90.   Nilai TDN untuk sapi dan domba dapat dihitung dari DE maupun ME berdasarkan rumus menurut Crampton et al. (1957) dan Swift (1957), yaitu:
TDN (%) = DE (McaI/kg) / 0.04409
TDN (%) = 27,65 x ME (McaI/kg)
TDN untuk babi tidak dihitung dari DE. TDN untuk kuda dan babi tidak dihitung dari ME.

DAFTAR PUSTAKA

Anggorodi, R. 1994. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

ACIAR. 2012. Bagaimana HMT Dapat Membantu Perbaikan Nutrisi Ternak? 

Chuzaemi, S. 2002 Arah dan Sasaran Penelitian Nutrien Sapi Potong di Indonesia. Workshop Sapi Potong. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Loka Penelitian Sapi Potong Grati, Pasuruan.

Crampton, E. W., L. E. Lloyd dan V. G. MacKay. 1957. The calorie value of TDN. J. Animal Sci. 16:541.

FAO. 2012. Balanced feeding for improving livestock productivity – Increase in milk production and nutrient use efficiency and decrease in methane emission, by M.R. Garg. FAO Animal Production and Health Paper No. 173. Rome, Italy.

Fonnesbeck, P. V., R. K. Lydman, G. W. Vander Noot and L. D. Symons. 1967. Digestibility of the proximate nutrients of forage by horses. J. Animal Sci. 26:1039.

Heldt, J.S. 1998. Effect of various supplemental carbohydrate sources on the utilization of low-quality tallgrass-prairie forage. Ph.D. dissertation. Kansas State University, Manhattan, Kansas.

Kearl, L.C.1982. Nutrient Requirement of Ruminant in Developing Countries. Utah State University, Logan Utah.

Mathis, C.P. 1997. Protein and Energy Supplementation to Beef Cows Grazing New Mexico Rangelands. Cooperative Extension Service, New Mexico State University. 

Parakkasi, A. 1983. Ilmu Gizi dan Makanan Ternak Monogastrik. Penerbit Angkasa, Bandung.

Suprijatna, E., U. Atmomarsono, dan R. Kartasudjana. 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar Swadaya, Jakarta.

Sutardi,T. 1978. Ikhtisar Ruminologi. Departemen Ilmu dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Swift, R. W. 1957. The caloric value of TDN. J. Animal Sci. 16:753.

Tillman, Hartadi. H, Rekso Hadiprojo. S., Prawirokusumo, Lebdosoekodjo. 1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press. Fakultas Peternakan UGM.

Umiyasih, U. dan Y.N. Anggraeny. 2007. Petunjuk Teknis Ransum Seimbang, Strategi Pakan pada Sapi Potong. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Loka Penelitian Sapi Potong Grati, Pasuruan.

Willard, J.T. 1902. The exact calculation of balanced ration. Experiment station of the Kansas State Agricultural College, Manhattan. Bulletin 115 : 97 – 146


Woods, B.C. 1997. Effect of inclusion of urea and supplement frequency on intake, digestion, and performance of cattle consuming low-quality, tallgrass prairie forage. M.S. thesis. Kansas State University, Manhattan, Kansas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar di sini, tapi gunakan bahasa yang sopan & jangan menyinggung suku, agama / ras