Minggu, 14 Juli 2013

CEREAL GRAINS, CONCENTRATE, COMPLETE FEED

CEREAL GRAINS


Definisi Cereal Grains


            Cereal grains (biji-bijian sereal) adalah tanaman rumput-rumputan (Graminae) yang dibudidayakan untuk dimanfaatkan biji atau buahnya. Produksi ternak tergantung pada biji-bijian sereal seperti jagung, sorghum, dan barley sebagai sumber utama energi dan protein (Rooney dan Pfugfelder, 1986), selain itu juga digunakan biji-bijian seral yang lain seperti gandum, millet, oat, gandum hitam dan sebagainya. Sereal adalah sumber karbohidrat, komponen energi dalam sereal yang utama adalah pati. Biji-bijian sereal merupakan sumber energi yang penting bagi unggas karena mudah dicerna. Sebanyak 90% pati dari biji-bijian sereal tercerna sebelum ileum dan 98% pati tercerna sebelum posterior ileum (Weurding et al., 2001). Biji-bijian sereal juga menjadi sumber pati yang penting bagi ruminansia. Jagung dan sorghum menyediakan 72% pati bagi ruminansia, sedangkan barley, oat dan gandum 57%, 58%, dan 77% (Huntington, 1987).

Kualitas Biji-bijian Sereal


            Menurut Fahrenholz (1996), biji-bijian sereal dipasarkan dengan beberapa karakteristik kualitas, antara lain bobot (bushel test), material asing, biji pecah, dan kadar air. Apabila bobotnya rendah saat diuji dan faktor lainnya meningkat, kualitas biji-bijian sereal menurun sehingga harganya pun rendah. Kandungan pati dalam biji-bijian sereal menurun dan proteinnya meningkat apabila bobotnya menurun. Biji-bijian tidak boleh digunakan dalam ransum jika telah berjamur atau ada mikotoksin yang terdeteksi.
            Jagung merupakan tanaman sereal sumber energi yang penting, pati yang terkandung dalam endosperm sebanyak 70-72% dari biji, terdiri atas 74% amilopektin atau glukosa bercabang dan 26% amilosa atau glukosa rantai panjang. Granula pati ini dapat segera dicerna secara enzimatik oleh amilase dan amiloglukosidase. Jagung memiliki kandungan protein yang rendah yaitu 8 – 10% dan sangat rendah kandungan lisinnya, yaitu 0,25%. Jagung kualitas nomor 1 memiliki bobot uji bushel (gantang) 56 lbs/bu namun rata-rata sebesar 50 lbs/bu. Material asing maksimal 4%, sedangkan biji yang pecah 10%, kadar air maksimal 15,5%, warna kuning cerah sampai keemasan, tidak ada bau asam, lembab, atau apek (Fahrenholz, 1996).
            Oat memiliki 30% kulit ari yang merupakan serat, kandungan protein bervariasi antara 11 – 24%, sedangkan lisin 3,2 – 5,2%. Kandungan patinya 43,7 – 61% dengan kandungan amilosa 19 – 28%. Oat yang baik memiliki bobot uji 27 lbs/bu (oat kualitas nomor 1 bobotnya 32 lbs/bu), materi asing maksimal 5%, biji pecah maksimal 3%, warna kuning muda atau bervariasi dari putih hingga kuning gelap atau kelabu, tidak berbau asam atau apek. Kandungan lemak 5 – 9%, sebanyak 95% lemak adalah asam palmitat, oleat, dan linoleat (Fahrenholz, 1996).

Pengolahan Biji-bijian Sereal
           
            Pengolahan biji-bijian sereal untuk pakan ternak yaitu dengan grinding (penggilingan), dry heat processing (pengolahan panas kering) dan wet processing. Penggilingan dilakukan dengan hammermill atau rollermill. Hammer mill berbentuk palu yang memukul bahan pakan sehingga hancur, digunakan untuk penggilingan kasar. Roller mill berbentuk silinder untuk menggiling pakan dalam bentuk biji-bijian atau butiran kasar untuk kemudian dijadikan sebagai tepung pakan yang halus dan seragam (Pathak, 1997).
            Dry heat processing dapat dilakukan dengan micronizing, popping, dan roasting. Micronizing adalah pemanasan dengan cahaya infremerah, biji-bijian dipanaskan hingga suhu 300oF selama 25 – 50 detik, kadar airnya dapat berkurang hingga 7%.  Popping yaitu pemanasan cepat pada suhu 700 – 800 oF sehingga airnya menguap dan biji-bijian menjadi mekar, pati tergelatinisasi sehingga mudah dicerna secara enzimatik. Roasting yaitu pemanasan yang lebih lambat dari popping, dengan suhu 260 - 300 oF, biji-bijian dilewatkan pada sebuah drum yang berputar di antara api, kadar air berkurang tanpa adanya pemekaran. Wet processing yaitu dengan steam flaking, pelleting, dan ekstruksi. Steam flaking yaitu memasak biji-bijian pada suhu 200 - 210 oF dengan kelembaban 17 – 18% selama 15 – 30 menit sehingga pati tergelatinisasi. Jumlah pati yang tergelatinisasi tergantung pada suhu, kelembaban dan tekanan roll. Ekstruksi dapat dilakukan dengan waktu pendek dan temperatur tinggi, waktu panjang temperatur rendah, pressure cooking extruders atau dry extruction cooker. Tujuan pengolahan biji-bijian adalah untuk gelatinisasi pati sehingga pati nantinya akan mudah menyerap air agar mudah dicerna. Gelatinisasi pati  ditentukan olh kombinasi antara kelembaban, panas, energi mekanik, dan tekanan (Fahrenholz, 1996).

KONSENTRAT


Definisi Konsentrat
           
            Konsentrat adalah pakan yang mengandung kepadatan nutrien tinggi, biasanya rendah serat kasar (kandungan serat kasar kurang dari 18% bahan kering) dan tinggi TDN. Konsentrat dapat mengandung tinggi energi  maupun protein tinggi. Konsentrat dapat diberikan sebagai pakan tunggal atau dicampur dalam ransum seimbang untuk tujuan produksi tertentu. Ada dua macam konsentrat, yaitu carbonaceous concentrate dan proteinaceous concentrate. Carbonaceous concentrate atau pakan sumber energi sangat tinggi kandungan TDN tetapi rendah protein (8 – 11%), contohnya adalah biji-bijian sereal (jagung, oat, barley, gandum). Proteinaceous concentrate atau bahan pakan sumber protein mengandung tinggi protein (lebih dari 15%) misalnya bungkil kedelai, bungkil kacang, canola, biji bunga matahari, bungkil kelapa, tepung ikan (FAO, 1983).

Carbonaceous concentrate.  Biji-bijian sereal tergolong sebagai carbonaceous concentrate karena mengandung tinggi energi, sedangkan kandungan proteinnya rendah atau sedang. Biji-bijian kecil seperti barley dan oat memiliki nilai energi sebesar 85 – 95% jagung, dengan nilai protein yang lebih tinggi dari jagung.     Molasses memiliki nilai energi sebesar 80% dari jagung dan mengandung kadar air 14% lebih tinggi, digunakan untuk meningkatkan palatabilitas dan sebagai carrier bagi produk lain seperti NPN atau mineral.
            Minyak mengandung 2 – 2,25 kali lipat energi jagung namun hanya boleh digunakan sedikit dalam ransum ruminansia, penggunaan minyak melebihi 5% dalam ransum dapat mengganggu fungsi rumen. Hasil samping industri pangan seperti ampas bir, kulit ari kedelai, dan gluten jagung mengandung energi tinggi dan protein sedang.

Proteinaceous concentrate.    Contoh konsentrat sumber protein asal tanaman adalah berbagai bungkil seperti bungkil kedelai, bungkil kapas, dan sebagainya. Bungkil kedelai adalah sumber protein yang banyak digunakan dalam ransum berbagai ternak. Kedelai mentah mengandung protein 15% lebih rendah dari bungkil kedelai namun kandungan lemaknya lebih tinggi.
            Tepung bulu tinggi protein namun sebagian besar adalah protein by pass dan rendah asam amino. Tepung ikan dan tepung daging unggas merupakan bahan pakan sumber protein asal hewan dengan kandungan protein lebih dari 50% dengan kandungan asam amino yang cukup lengkap. Tepung daging dan tulang (meat bone meal) mengandung protein dan mineral yang tinggi, penggunaan MBM dalam ransum runinansia dihindari di negara-negara maju karena adanya resiko penularan penyakit sapi gila (mad cow's disease).
            Urea adalah sumber NPN (non protein nitrogen) yang baik diberikan bagi ruminansia dengan kadar 1 – 3% dari campuran konsentrat. Pemberian urea harus disertai dengan bahan pakan sumber energi yang cepat tersedia bagi rumen. Urea banyak digunakan dalam amoniasi produk hasil samping pertanian, misalnya jerami, atau ditambahkan langsung dalam ransum untuk meningkatkan kadar protein kasar (Hall et al., 2009).

Mutu Konsentrat

            Konsentrat biasanya disusun dari bahan-bahan yang berbentuk bijian yang umumnya memiliki nilai nutrisi lebih baik dibandingkan dengan rumput. Kandungan nutrisinya yang tinggi menyebabkan konsentrat mudah sekali mengalami penyusutan. Penyusutan ini dapat berupa penyusutan kualitatif dan penyusutan kuantitatif. Penyusutan kualitatif adalah kerusakan yang terjadi akibat perubahan biologi (mikroba, serangga, tungau dan respirasi), perubahan fisik (tekanan, getaran, suhu dan kelembaban) serta perubahan kimia dan biokimia (reaksi pencoklatan, ketengikan, penurunan nilai gizi dan aspek keamanan terhadap kesehatan ternak). Penyusutan kuantitatif adalah kehilangan jumlah atau
bobot hasil pertanian karena penanganan pascapanen yang tidak memadai dan adanya gangguan biologi (proses respirasi, serangan serangga dan tikus). Penyusutan ini erat kaitannya dengan lama waktu penyimpanan (Krisnan, 2008).

COMPLETE FEED


 Definisi Complete Feed

            Complete feed  (pakan komplit) adalah kombinasi konsentrat dan pakan kasar (roughages) dalam satu ransum (Sunarso et al., 2011). Pakan komplit adalah campuran berbagai bahan pakan menjadi ransum untuk memenuhi kebutuhan nutrien spesifik sehingga meningkatkan konsumsi nutrien dan efisiensi pakan. Pakan komplit dapat mengandung pakan kasar maupun tidak (Wright dan Lackey, 2008). Bahan penyusun pakan komplit dapat berasal dari produk pertanian (jagung, gaplek), atau mengoptimalkan pemanfaatan limbah pertanian seperti jerami (jerami padi, jerami jagung), dedak padi, bekatul. Dapat juga menggunakan limbah industri pertanian seperti bungkil kelapa, bungkil sawit, bungkil kapuk, bungkil kacang, bungkil kedelai, onggok dan sebagainya. Bahan-bahan tersebut memiliki nilai nutrisi yang cukup untuk diolah sebagai bahan penyusun ransum pakan komplit yang berkualitas (Soeharsono, 2004).

Contoh bahan pakan penyusun complete feed

Penggunaan Complete Feed

            Keuntungan pemberian pakan komplit yaitu peternak lebih bisa mengontrol program pemberian pakan, menghemat tenaga dan keseluruhan biaya produksi. Semua hijauan, biji-bijian, suplemen protein, mineral dan vitamin telah dicampur menjadi satu dan ternak akan mengonsumsi semuanya karena tidak bisa memilih bahan pakan yang disukai. Nutrien pakan komplit telah disesuaikan menurut periode produksi, fisiologis ternak dan produksi yang ingin dicapai sehingga tidak berlebih maupun tidak kurang. Pemberian pakan komplit lebih praktis saat diaplikasikan pada ternak ruminansia karena sudah mengandung hijauan dan konsentrat, sehingga tidak perlu ada interval waktu pemberian konsentrat dan hijauan. Kelemahan pakan komplit yaitu lebih rumit dalam penyiapannya, ternak harus dikelompokkan berdasarkan produksinya (terutama untuk ternak perah) karena kebutuhan nutriennya berbeda-beda, diperlukan peralatan yang memiliki kapabilitas untuk mencampur seluruh komponen pakan secara akurat (Schroeder dan Park, 2010).
            Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan komplit dapat meningkatkan performans ternak. Hasil penelitian Sunarso et al. (2011) menunjukkan bahwa pakan komplit yang mengandung protein kasar 12% dan TDN 63% dapat meningkatkan performans sapi potong silangan Simmental. Pertambahan bobot badan yang dicapai yaitu 1,54 kg per hari dengan keuntungan Rp 16.6229, 74 per ekor. Berdasarkan penelitian Baba et al. (2012), pemberian pakan komplit dengan kandungan protein kasar 13,87%, BETN 39,65% dan serat kasar 31,22% dapat meningkatkan rata-rata produksi susu sapi, yaitu dari 10,5 liter per hari menjadi 11,87 liter per hari. 

DAFTAR PUSTAKA
           
Fahrenholz, C. 1996. Cereal Grains and By-Products: What's in Them and How Are They Processed? (halaman 57-70). SmithKline Beecham, Pennsylvania.

FAO. 1983. The Use of Concentrate Feeds in Livestock Production Systems. 

Hall, J.B., W.W. Seay, dan S.M. Baker. 2009. Nutrition and Feeding of the Cow-Calf Herd: Essential Nutrients, Feed Classification and Nutrient Content of Feeds. Virginia Cooperative Extension Publication 400-011. Virginia State University, Virginia.
Krisnan, R. 2008. Perubahan karakteristik fisik konsentrat domba selama penyimpanan. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2008 : 491 – 497.

Pathak, N. 1997. Textbook of Feed Processing Technology Manufacturing Association, Inc. Arlington, Virginia.

Rooney, L.W. dan R.L.R. Pflugfelder. Factors affeting starch digestibility with special emphairs on sorghum and corn Journal of Animal Science 63 (5) : 1607-1623.

Schroeder, J.W. dan C.S. Park. 2010. Using a Total Mived Ration for Dairy Cows. North Dakota State University Extension Service (NDSU).

Soeharsono,. 2004. Laporan Pengkajian Sistem Usaha Tani Integrasi Tanaman Ternak di Lahan Kering. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta.

Sunarso, L.K Nuswantara, A. Setiadi dan Budiyono. 2011.  The Performance of Beef Cattle Fed by Complete Feed. International Journal of Engineering & Technology IJET-IJENS 11 (1) : 196 – 199.

Weurding, R.E., A.Veldman, W.Veen, P.J. van der Aar dan W.A. Verstegen. 2001. Starch digestion rate in the small intestine of broiler chickens differs among feedstuffs. The Journal of Nutrition 131(9) : 2329-2335.

Wright, T. dan R. Lackey. 2008. Drfinition of Feed Manufacturing and Livestock Nutrition Terms. Ontario Ministry of Agriculture, Food, and Rural Affairs. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar di sini, tapi gunakan bahasa yang sopan & jangan menyinggung suku, agama / ras