Rabu, 31 Juli 2013

FEED ADDITIVE, ANTIBIOTIK, PROBIOTIK


FEED ADDITIVE


Definisi Feed Additive


            Feed additive merupakan bahan pakan tambahan yang diberikan kepada ternak melalui pencampuran pakan ternak. Bahan tersebut merupakan pakan pelengkap yang bukan zat makanan. Penambahan feed additive dalam pakan bertujuan untuk mendapatkan pertumbuhan ternak yang optimal. Feed additive ada dua jenis yaitu feed additive alami dan sintetis (Wahju, 2004).
            Menurut Ravindran (2012), feed additive dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu nutritive feed additive dan non nutritive feed additive. Nutritive feed additive ditambahkan ke dalam ransum untuk melengkapi atau meningkatkan kandungan nutrien ransum, misalnya suplemen vitamin, mineral, dan asam amino. Non nutritive feed additive tidak mempengaruhi kandungan nutrien ransum, kegunaannya tergantung pada jenisnya, antara lain untuk meningkatkan palatabilitas (flavoring / pemberi rasa, colorant / pewarna), pengawet pakan (antioksidan), penghambat mikroorganisme patogen dan meningkatkan kecernaan nutrien (antibiotik, probiotik, prebiotik), anti jamur, membantu pencernaan sehingga meningkatkan kecernaan nutrien (acidifier, enzim).

Jenis-jenis Feed Additive

            Feed additive yang bersifat nutritif antara lain adalah suplemen mineral, yang mencakup major mineral dan trace mineral. Mineral dapat berasal dari bahan organik, misalnya batu kapur (limestone), grit cangkang kerang, grit cangkang telur. Mineral organik tidak boleh digunakan melebihi 3% dalam ransum. Mineral dapat juga berasal dari bahan anorganik, misalnya dikalsium fosfat, garam dapur (NaCl), defluorinated phosphate, trikalsium fosfat, sodium bikarbonat (Na2CO3) dalam bentuk baking soda dengan dosis 0,2 – 0,3% dalam ransum. Trace mineral seperti Cu, Zn, Fe, Mn, Co dibutuhkan hanya sedikit, yaitu 0,01% dalam ransum. Suplemen mineral dibutuhkan sebanyak 0,05% dalam ransum. Asam amino esensial (L-lisin, DL-metionin, L-treonin, L-triptofan) dapat ditambahkan dalam ransum untuk memenuhi keseimbangan asam amino (Ravindran, 2012).
            Penggunaan non nutritive feed additive umumnya tidak lebih dari 0,05% dari ransum. Jenis-jenisnya antara lain yaitu pengikat pellet (bentonit, hemiselulosa, guar meal); pemberi aroma/ flavoring agent; enzim (xylanase, ß-glukanase, fitase); antibiotika; anti jamur (natrium propionat, asam propionat, gentian violet, nistatin);  koksidiostat untuk mencegah koksidiosis (amprolium, bithionol, polystat, zoalin, nitrofurazon, furazolidon); anti cacing (piperazin, phenothiazin, dichlorophen); antioksidan (ethoxyquin, BHT, BHA) untuk mencegah ketengikan oksidatif dari lemak yang merusak vitamin A, E, dan D; pewarna (karotenoid) untuk meningkatkan pigmentasi pada ayam broiler dan kuning telur; serta bahan-bahan pemicu metabolisme (zat thyroaktif) seperti kasein dan iodium (Wahju, 2004).
            Sebagai bahan pengganti antibiotik, digunakan bahan-bahan aditif pakan seperti probiotik, prebiotik, asam organik, herbal, dan protein antimikrobial. Probiotik digunakan untuk meningkatkan populasi bakteri menguntungkan dalam saluran pencernaan seperti lactobacilli dan streptococci. Prebiotik seperti FOS (frukto oligosakarida) dan MOS (mannan oligosakarida) digunakan untuk mencegah penempelan dan pertumbuhan bakteri patogen di saluran pencernaan, sebagai nutrien bagi bakteri menguntungkan. Asam organik seperti asam propionat dan asam format digunakan sebagai acidifier, yaitu menurunkan pH saluran pencernaan sehingga merangsang aktivitas enzim pencernaan dan mencegah pertumbuhan mikroorganisme patogen. Herbal seperti rempah-rempah, minyak esensial, ekstrak tumbuhan, madu dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme patogen, meningkatkan imunitas, merangsang aktivitas enzim pencernaan. Protein antimikrobial seperti lisozim, laktasin F, laktoferrin, α-laktalbumin dapat mencegah pertumbuhan mikroba patogen (Ravindran, 2012).

ANTIBIOTIK

Fungsi Antibiotik

            Antibiotik banyak digunakan sebagai growth promoter dalam pakan ternak di seluruh dunia untuk memacu pertumbuhan ternak agar dapat tumbuh lebih besar dan dalam waktu yang lebih cepat serta untuk mencegah terjadinya infeksi (Mitchell et al., 1998). Beberapa antibiotika yang banyak dipakai sebagai growth promoter antara lain dari golongan tetracyclin, penicillin, macrolida, lincomysin dan virginiamycin (Angulo et al., 2004). Antibiotik dapat membantu mengefektifkan penggunaan nutrien pada tingkat yang sangat terbatas, misalnya vitamin atau asam amino karena antibiotik mencegah kerusakan yang ditimbulkan mikroorganisme. Antibiotik mencegah pertumbuhan mikroorganisme yang dapat menghasilkan amoniak yang berlebihan atau hasil sisa yang beracun dan mengandung nitrogen  dalam usus. Antibiotik dapat memperbaiki ketersediaan atau absorbsi nutrien tertentu, misalnya kalium, fosfor, magnesium. Antibiotik dapat memperbaiki konsumsi pakan atau air. Antibiotik dapat mencegah dan mengobati penyakit pada saluran usus (Wahju, 2004).
            Mekanisme kerja antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan masih belum diketahui secara pasti. Ada indikasi yang menunjukkan bahwa aktivitas dari antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan dipengaruhi oleh efek antibakterial antibiotika. Ada beberapa teori yang menjelaskan mekanisme kerja dari antibiotik yaitu: antibiotika membantu menjaga nutrisi dari destruksi bakteri, antibiotika membantu meningkatkan absorpsi nutrisi karena membuat barier dinding dari usus halus menjadi tipis, antibiotika dapat menurunkan produksi toksin dari bakteri saluran pencernaan dan menurunkan kejadian infeksi saluran pencernaan subklinik (Feihgner dan Dashkevics, 1987). Prinsip kerja antibiotika yaitu dengan   mencegah pembentukan dinding sel bakteri dan sintesis protein bakteri;    mengganggu sintesis DNA, RNA, nukleotida bakteri; mengganggu fungsi membran plasma dan organel sel bakteri; mengganggu metabolisme dari sel bakteri.

Efek Samping Antibiotik

            Indrawani (1987) dalam penelitiannya menyatakan bahwa pemberian feed additive Oksitetrasiklin dan Spiramycin selama 8 minggu akan meninggalkan residu di dalam hati dan daging ayam yang lebih besar dibanding dengan jika pemberian feed additive hanya 4 minggu. Residu antibiotik bila termakan konsumen dapat menimbulkan reaksi alergi dan keracunan serta perkembangan kuman yang resisten terhadap antibiotik (Kusumaningsih et al., 1996). Antibiotik di dalam tubuh ayam akan dimetabolisir dan diekskresi keluar tubuh, sehingga bila dilakukan penghentian pemberian antibiotik sebagai feed additive, maka kadar residu di dalam jaringan tubuh ayam diharapkan akan menurun. Pemakaian antibiotik dalam bidang peternakan perlu diperhatikan waktu hentinya pemberian antibiotik tersebut, yaitu jarak antara pemberian antibiotik terakhir sampai dengan produk ternak tersebut (daging, telur dan susu) boleh dikonsumsi manusia (Kusumaningsih et al., 1996).
            Bacitracin terutama bersifat bakterisidal terhadap kuman Gram positip, termasuk Staphyllococcus resisten Penicillin. Bacitracin dikatakan tidak mudah menimbulkan hipersensitifitas (Brooks et al., 1996). Setelah pemberian Bacitracin pada hewan secara parenteral, Bacitracin akan ditemukan di dalam urine, ginjal, darah, empedu, paru-paru, sumsum tulang, kulit, otot, otot jantung, hati, limpa, cairan cerebrospinal dan otak (Wilson dan Schild, 1961). Menurut Foye (1974), penggunaan Bacitracin di dalam pakan ternak terutama ternak babi dan ayam adalah dalam bentuk Zinc bacitracin. Peneraan residu antibiotik pada produk akhir ternak dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain secara tidak langsung (dilusi sensitivitas kuman) dengan bantuan spektrofotometer. Untuk menghindari adanya residu antibiotik Zinc bacitracin, pemberian feed additive Zinc bacitracin sebaiknya dihentikan 13 hari sebelum ayam dipotong.

            Salah satu efek penggunaan antibiotik yang berbahaya yaitu resistensi antibiotika. Resistensi bakteri terhadap antibiotik menyebabkan terjadinya penyakit yang sangat serius berupa kegagalan pengobatan terhadap infeksi gastrointestinal yang disebabkan oleh Campylobacter dan Salmonella (Neiman et al., 2003). Beberapa foodborne bakteri (bakteri yang berasal dari bahan pangan yang terkontaminasi) seperti Salmonella, Campylobacter, Enterococci, dan Escherichia coli yang resisten terhadap antibiotika telah terbukti dapat mentransfer gen resisten ke manusia melalui rantai makanan atau secara kontak langsung (Van Den Bogaard et al., 2000). Resistensi sel bakteri adalah suatu sifat tidak terganggunya kehidupan sel mikroorganisme oleh antimikroba (Ganiswara et al., 1995). Sifat ini merupakan suatu mekanisme alamiah bakteri untuk bertahan hidup. Mekanisme terjadinya resistensi antibiotik mencakup tiga tahapan, yaitu alteration target (gangguan pada target), replacement target (penggantian target), perubahan transportasi sel, serta inaktivasi antibiotik  (Hawkey, 1998).
            Uni Eropa telah melarang penggunaan antibiotik sebagai feed additve sejak Januari 2006 yang meliputi : avilamycin untuk ayam broiler dan babi; monensin-sodium untuk sapi; salinomycin-sodium untuk babi; flavomycin untuk ayam broiler, babi, dan sapi (Cervantes, 2007).

PROBIOTIK

Definisi Probiotik

            Secara umum probiotik didefinisikan sebagai mikroba hidup yang digunakan sebagai pakan imbuhan dan dapat menguntungkan inangnya dengan meningkatkan keseimbangan mikrobial pencernaannya (Fuller, 1992). Menurut McDonald et al. (2002) probiotik didefinisikan sebagai makanan tambahan berupa mikroba hidup baik bakteri maupun kapang yang mempunyai pengaruh menguntungkan pada hewan inang dengan memperbaiki mikroba dalam saluran pencernaan.

3.2.      Cara Kerja Probiotik
 
            Konsep tentang probiotik didasarkan pada terbentuknya kolonisasi mikroba yang menguntungkan yang masuk ke dalam saluran pencernaan, mencegah perkembangan bakteri pathogen, netralisasi racun pada saluran pencernaan, mengatur aktivitas enzim bakteri tertentu dan menguatkan pengaruh substansi yang merangsang sintesis antibodi pada sistem kekebalan (Cruywagen et al., 1996).
            Probiotik bukan bertindak sebagai nutrien esensial dimana tidak ada dosis respon, tetapi hanya ada level batas pemakaian. Cara kerja probiotik terutama melalui modifikasi populasi bakteri usus dan efektivitasnya tergantung atas status mikroba pada satu kelompok ternak dan pada individu ternak. Dengan demikian, dapat dimengerti jika efek yang terjadi mempunyai variasi yang tinggi. Perbedaan cara kerja dari strain probiotik sejauh ini belum dipahami, tetapi metabolit bakteri yang dihasilkan seperti asam organik khususnya pada bakteri asam laktat yang dapat menurunkan pH atau juga peroksida dan bakteriosin diperkirakan bertanggung jawab atas sifat antagonis terhadap bakteri patogen Gram positif seperti Salmonella. Beberapa probiotik diketahui dapat menghasilkan enzim pencernaan seperti amilase, protease dan lipase yang dapat meningkatkan konsentrasi enzim pencernaan pada saluran pencernaan inang sehingga dapat meningkatkan perombakan nutrien. Terdapat beberapa mekanisme respon probiotik yaitu meliputi produksi bahan penghambat secara langsung, penurunan pH luminal melalui produksi asam lemak terbang rantai pendek, kompetisi terhadap nutrien dan tempat pelekatan pada dinding usus, interaksi bakterial (CE), resistensi kolonisasi contohnya Lactobacilli vs bakteri patogen, merubah respon imun, dan mengatur ekspresi gen colonocyte (Fooks dan Gibson, 2002; Steer et al., 2000).
            Satu dari alasan penggunaan probiotik yaitu untuk menstabilkan mikroflora pencernaan dan berkompetisi dengan bakteri patogen, dengan demikian strain probiotik harus mencapai usus dalam keadaan hidup dalam jumlah yang cukup. Secara umum, ada beberapa karakteristik dan kriteria keamanan yang harus dimiliki oleh probiotik yaitu : nontoksik dan nonpatogenik; mempunyai identifikasi taksonomi yang jelas; dapat hidup dalam spesies target; dapat bertahan, berkolonisasi dan bermetabolisme secara aktif dalam target yg ditunjukkan dengan ketahanan terhadap cairan pencernaan dan empedu, persisten dalam saluran pencernaan, menempel pada ephitelium atau mucus, berkompetisi dengan mikroflora inang; memproduksi senyawa antimikrobial; antagonis terhadap patogen; dapat merubah respon imun; tidak berubah dan stabil pada waktu proses penyimpanan dan lapangan; bertahan hidup pada populasi yang tinggi; mempunyai sifat organoleptik yang baik (Gaggia et al., 2010).
  
Jenis Probiotik

            Bakteri yang umum digunakan sebagai probiotik yaitu Lactobacillus dan Bifidobacteria, kedua jenis bakteri ini dapat mempengaruhi peningkatan kesehatan karena dapat menstimulasi respon imun dan menghambat patogen. Satu faktor kunci dalam seleksi starter probiotik yang baik yaitu kemampuannya untuk
bertahan dalam lingkungan asam pada produk akhir fermentasi secara in vitro dan kondisi buruk dalam saluran pencernaan atau in vivo. Ketahanan probiotik pada kondisi in vitro dapat dipengaruhi oleh pembentukan metabolit oleh starter seperti asam laktat, asam asetat, hidrogen peroksida dan bakteriosin (Saarela et al., 2000).
            Berbagai jenis mikroorganisme yang digunakan sebagai probiotik diisolasi dari isi usus pencernaan, mulut, dan kotoran ternak atau manusia. Pada saat ini, mikroorganisme yang banyak digunakan sebagai probiotik yaitu strain Lactobacillus, Bifidobacterium, Bacillus spp., Streptococcus, yeast dan Saccharomyces cereviceae. Mikroorganisme tersebut harus non-patogen, Gram positif, strain yang spesifik, anti E. coli, tahan terhadap cairan empedu, hidup, melekat pada mukosa usus, dan minimal mengandung 30 x 109 cfu/g (Pal et al., 2006; Salminen et al., 1996).

DAFTAR PUSTAKA

Brooks, G.F., J.S. Butel, L.N. Ornston, E. Jawetz, J.L. Melnick, E.A. Adelberg, 1996. Mikrobiologi Kedokteran. Edisi 20. EGC. Jakarta.

Cervantes, H. 2007. Antibiotic Feed Additives: Politics and Science. Phibro Animal Health,Watkinsville, Georgia, USA.

Cruywagen, C. W., I. Jordan and L. Venter. 1996. Effect of Lactobacillus acidophillus supplementation of milk replacer on preweaning of calves. J. Dairy Science. 79 : 483-486.

Feighner, S. D. dan M. P. Dashkevicz. 1987. Subtherapeutic levels of antibiotics in poultry feeds and their effects on weight gain, feed efficiency, and bacterial cholyltaurine hydrolase activity. Appl. Environ. Microbiol. 53:331-336.

Fooks, L.J. dan G.R. Gibson. 2002. In-vitro investigation of the effect of probiotics and prebiotics on selected human intestinal pathogens. FEMS Microbiol. Ecol. 39: 67 – 75.

Foye, W.O., 1974. Principles of Medical Chemistry. Second Edition. Lea and Febriger.

Fuller, R. 1992. The importance of Lactobacillus in maintaining normal microbial balance in the crop. British Poultry Sci. 18:85.

Gaggia, F., P. Mattarelli dan B. Biavati. 2010. Probiotic and prebiotics in animal feeding for safe food production. Intl. J. Food Microbiol. 14: 515 – 528.

Ganiswara, S.G., R. Setiabudy, dan F.D. Suyatno, 1995. Farmakologi dan Terapi Edisi IV. Editor Purwantiasrtuti dan Nafrialdi. Universitas Indonesia. Jakarta.

Hawkey P.M. 1998. The origins and molecular basis of antibiotic resistance. Biology Molecular Journal 1; 317(7159) :657-660.

Indrawani, I.M., 1987. Kajian Terhadap Beberapa Antibiotika Sebagai Feed Additive Dalam Ransum Ayam Broiler. Tesis. FPS. UGM. Yogyakarta.

Kusumaningsih, A., T.B. Murdiati, S. Bahri, 1996. Pengetahuan peternak tentang waktu henti obat dan hubungannya dengan residu antibiotika pada susu. Media Kedokteran Hewan , FKH. Universitas Airlangga, Surabaya. 12:260-267.

McDonald, P.,A.R.Edwards, J.F.D. Greenhalgh and C. A. Morgan. 2002. Animal Nutrition. 6th Ed. Ashford Colour Press Ltd., Gosport, British.

Pal, A., L. Ray dan P. Chattophadhyay. 2006. Purification and immobilization of an Aspergillus terreus xylanase: Use of continuous fluidized column reactor. Ind. J. Biotechnol. 5: 163 – 168.

Saarela, M., G. Mogensen, R. Fonde, J. Matto and T.M. SANDHOLM. 2000. Probiotic bacteria: Safety, functional and technological properties. J. Biotechnol. 84: 197 – 215.

Salminen, S., E. Isolauri dan E. Salminen. 1996. Clinical uses of probiotics for stabilizing the gut mucosal barrier: Successful strains and future challenges. Antonie van Leeuwenhoek 70: 347 – 358.

Steer, T., H. Carpenter, K. Tuohy, G.R. Gibson dan T.E. Steer. 2000. Perspectives on the role of the human gut microbiota and its modulation by pro- and prebiotics. Nutr. Res. Rev. 13: 229 – 254.

Van Den Bogaard, A.E., N. Bruinsma, dan E.E. Stobberingh. 2000. The effect of banning avopracin on VRE carriage in the Netherlands (five abattoirs) and Sweden. J. Antimicrob.Chemother. 46 (1): 146-148.

Wahju, J. 2004. Ilmu Nutrisi Unggas. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.


Wilson and Schild, 1961. Applied Pharmacology. Tenth Edition. Little Brown Company-Boston.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar di sini, tapi gunakan bahasa yang sopan & jangan menyinggung suku, agama / ras