Minggu, 14 Juli 2013

PASTURE, FODDER, CARRYING CAPACITY

PASTURE

 
Definisi Pasture

      Pasture atau padang penggembalaan  adalah lahan yang digunakan untuk penggembalaan dan sumber hijauan segar bagi ternak. Menurut Parakkasi (1999), pasture adalah suatu lapangan terpagar yang ditumbuhi hijauan dengan kualitas unggul dan digunakan untuk menggembalakan ternak ruminansia. Ciri-ciri pasture yang baik yaitu  produksi bahan kering tinggi, memiliki kandungan nutrien terutama protein kasar yang tinggi, tahan renggutan dan injakan serta kekeringan saat musim kemarau, pemeliharaannya mudah, daya tumbuh cepat, nisbah daun dan batang tinggi, mudah dikembangkan jika dikombinasikan dengan tanaman legume, ekonomis dan mempunyai palatabilitas yang tinggi.

Kuantitas dan Kualitas Pasture

            Kuantitas pasture dideskripsikan sebagai herbage mass atau tinggi tanaman. Herbage mass dinyatakan dalam satuan kg BK/ha. Herbage mass merupakan jumlah total dari pasture jika dipotong, meliputi bagian segar dan bagian yang mati. Herbage mass dinyatakan dalam bahan kering karena kandungan air pasture dapat bervariasi tergantung dari musim dan perbedaan tahap pertumbuhan. Komponen pasture untuk menentukan herbage mass adalah tinggi, densitas (kepadatan), dan kandungan air. Nilai herbage mass untuk domba adalah 400 – 1700 kg BK/ha dan untuk sapi 700 – 2900 kg BK/ha. Semakin rendah nilai herbage mass, semakin banyak waktu yang diperlukan ternak untuk merumput agar kebutuhan nutriennya tercukupi Selain herbage mass, tinggi tanaman juga digunakan untuk menentukan kuantitas pasture (Bell, 2006).
            Kualitas pasture ditentukan dari kecernaan dan proporsi legume (legume proportion). Kecernaan yang tinggi menandakan kualitas yang baik. Kualitas nutrisi legume lebih baik dari rumput, sehingga kualitas nutrisi rumput dibandingkan dengan legume dalam proporsi legume (legume proportion). Semakin sempit imbangan menandakan bahwa kualitas rumput tidak terlalu jauh dari legume (Bell, 2006).

Jenis Pasture

            Menurut Reksohadiprodjo (1985), pasture atau padang penggembalaan dapat digolongkan menjadi empat, yaitu padang penggembalaan alam, padang penggembalaan alam yang sudah ditingkatkan, padang penggembalaan buatan, dan padang penggembalaan dengan irigasi.
            Padang penggembalaan alam (permanen) terdiri dari tanaman dominan yang berupa rumput perennial, sedikit atau tidak ada sama sekali belukar gulma, tidak ada pohon, tidak ada campur tangan manusia terhadap susunan floranya, manusia hanya mengawasi ternak yang digembalakan. Padang penggembalaan alam yang sudah ditingkatkan memiliki karakteristik spesies hijauan makanan ternak dalam padangan belum ditanam oleh manusia, tetapi manusia telah mengubah komposisi botaninya sehingga didapat spesies hijauan yang produktif dan menguntungkan dengan cara mengatur pemotongan (defoliasi). Padang penggembalaan buatan (temporer) memiliki karakteristik yaitu tanaman makanan ternak dalam padangan telah ditanam, disebar dan dikembangkan oleh manusia, dapat menjadi permanen atau diselingi dengan tanaman pertanian. Padang penggembalaan dengan irigasi biasanya terdapat di daerah sepanjang sungai atau dekat sumber air, penggembalaan dijalankan setelah padangan menerima pengairan selama 2 sampai 4 hari (Reksohadiprodjo,1985)
Padang penggembalaan alam

Padang penggembalaan buatan (temporer)

Padang penggembalaan dengan irigasi

Faktor-faktor yang perlu Diperhatikan dalam Manajemen Pasture

            Menurut Casale (2012), hal-hal yang perlu diperhatikan dalam manajemen pasture yaitu jenis tanah, iklim, komposisi tanaman, jenis dan umur ternak, topografi, ketersediaan air, keberadaan area sensitif (lembah curam, spesies langka, lahan basah dan sebagainya), keseluruhan kondisi lokasi, dan sistem grazing atau manajemen ternak.
            Jenis tanah berkaitan dengan kesuburan tanah dan menentukan jumlah tanaman yang ditanam sebagian besar rumput dan legume tumbuh pada tingkat pH diatas 6,0. Tanah berpasir tidak sesuai untuk pasture sedangkan tanah vulkanik dan aluvial sangat baik untuk pertumbuhan tanaman. Menurut Oregon Department of Agriculture (2009), semua jenis tanah cocok ditanami tall fescue, red clover, white clover, birdsfoot trefoil. Tanah yang kering dan dangkal dengan drainase yang baik cocok ditanami alfalfa, orchadgrass, perennial ryegrass. Tanah yang kurang air cocok ditanami alsike clover, big trefoil, dan perennial ryegrass. Tanah dengan drainase campuran, dataran tinggi, dan sengkedan cocok ditanami alfalfa, orchardgrass, perennial ryegrass, alsike clover, big trefoil.
            Iklim menentukan pertumbuhan tanaman, juga mempengaruhi kadar air dan kualitas nutrien secara keseluruhan dalam tanaman pakan. Komposisi tanaman berupa kombinasi sederhana dari rumput dan satu atau dua macam legume menghasilkan kualitas hijauan yang lebih tinggi daripada kombinasi yang lebih kompleks. Kombinasi sederhana juga mempermudah manajemen grazing, yang penting untuk menjaga kestabilan produksi, komposisi tanaman yang diinginkan, dan kepadatan tutupan lahan. Aspek topografi berupa ketinggian lahan dan kemiringan lereng berpengaruh bagi kualitas pasture karena menentukan temperatur lingkungan dan intensitas sinar matahari yang diterima tanaman. Manajemen grazing harus diatur dengan cermat, yaitu mempertimbangkan daya dukung dan daya tampung lahan agar tidak merusak lingkungan dan dapat memenuhi kebutuhan hijauan bagi ternak (Casale, 2012).
            Manajemen pasture yang tepat dapat meningkatkan produksi hijauan, mengurangi populasi gulma, mencegah erosi, mengurangi pengeluaran untuk pakan, herbisida, dan pupuk, mencegah pemadatan tanah dan hilangnya unsur hara (Oregon Department of Agriculture, 2009).

FODDER



Definisi Fodder

            Fodder adalah istilah untuk tanaman yang digunakan sebagai pakan ternak. Menurut Ahmed (2011), fodder adalah tumbuhan yang diberikan pada ternak untuk menyediakan nutrien yang diperlukan ternak, pemberiannya dapat berupa hijauan segar maupun kering, bentuk biji-bijian maupun umbi, atau dalam bentuk silase. Tumbuhan fodder dapat diperoleh dari hasil budidaya maupun dari habitat alaminya di padangan.
            Fodder dapat diklasifikasikan menjadi tanaman temporer atau permanen. Fodder permanen dapat digunakan selama lima tahun atau lebih yaitu hijauan herba yang dibudidayakan atau tumbuh liar. Fodder temporer ditanam secara intesif dengan beberapa kali pemotongan tiap tahun, mencakup tiga kelompok yaitu rumput, serealia, legume, dan umbi-umbian yang dibudidayakan. Semuanya diberikan pada ternak dalam bentuk segar, hay, atau silase. Rumput mengandung serat kasar yang tinggi, protein dan beberapa jenis mineral. Legume tinggi protein dan mineral. Umbi-umbian tinggi pati dan rendah serat kasar sehingga mudah dicerna. Serat kasar yang terkandung dalam sebagian besar fodder adalah selulosa (FAO, 1994).
            Menurut Burge (1993), hijauan makanan ternak sangat penting untuk menggantikan pasture alami yang kurang produkstif, misalnya spesies Aristida, Poa, Stipa, Themeda, Bothriochloa,dan sebagainya. Selain itu juga dapat menggantikan pasture alam yang sudah ditingkatkan dengan jenis tanaman yang lebih produktif. Hal ini penting dari segi manfaat produksi dan manfaat agronomis. Maksudnya, manajemen pakan yang hanya mengandalkan pasture akan menyebabkan produktivitas ternak menurun saat cuaca tidak memungkinkan untuk aktivitas grazing atau pertumbuhan tanaman. Penanaman fodder yang disertai dengan teknologi pengolahan pakan yang tepat dapat membantu menjaga kontinuitas pakan dan kecukupan nutrien bagi ternak.
            Masalah yang sering ditemukan dalam penggunaan fodder yaitu terkait dengan keambaan (bulk) dan berat, biaya, limbah, gulma, dan penyakit. Fodder  yang mengandung tinggi karbohidrat kompleks bersifat amba (bulky) sehingga menurunkan palatabilitas dan konsumsi. Semakin tinggi protein, semakin tinggi harganya. Limbah dari fodder mencapai 30 – 80% sehingga diperlukan manajemen pengolahan atau pemanfaatan limbah. Gulma banyak tumbuh di lahan dan menurunkan jumlah produksi tanaman pakan. Resiko penyakit pada ternak dapat terjadi jika fodder terkontaminasi mikotoksin dari jamur atau mengandung antinutrisi, oleh karena itu diperlukan proses budidaya, pengolahan, dan penyimpanan bahan pakan yang baik  (Croker dan Watt, 2001).
            Spesies fodder yang baik mengandung tinggi protein dan beberapa mineral penting seperti fosfor yang membantu pertumbuhan. Daun, tunas halus, bunga, polong, dan biji dapat diberikan kepada ternak (ruminansia maupun nonruminansia), walaupun beberapa macam fodder membutuhkan perlakuan untuk meredam pengaruh faktor antinutrisinya, misalnya sorghum diberi perlakuan panas atau perendaman dengan basa untuk menghilangkan tanin. Fodder yang tinggi serat lebih sesuai untuk ruminansia (FAO, 1994).           
            Budidaya tanaman pakan (fodder) membutuhkan teknk yang berbeda dari tanaman perkebunan. Budidaya tanaman pakan memiliki dua ciri yang berbeda, yaitu sebagai tanaman yang dipanen saat dewasa serta sebagai tanaman yang dipanen saat muda. Tanaman yang dipanen saat dewasa misalnya polong-polongan dari legume, jagung, umbi-umbian, dan biji-bijian yang lain. Tanaman yang dipanen saat umur relatif muda misalnya rumput, karena kandungan proteinnya lebih tinggi dan serat kasarnya tidak terlalu tinggi. Gulma yang tumbuh di antara fodder kadang bisa ikut dipanen bersama sisa-sisa tanaman panen (jerami) sebagai pakan kasar (roughage) bagi ternak, selama gulma tersebut tidak memiliki kandungan zat yang bersifak toksik atau antinutrisi dan tidak memiliki struktur yang berbahaya, misalnya duri (Ahmed, 2011).

CARRYING CAPACITY


Definisi Carrying Capacity

            Kapasitas tampung (Carrying Capacity) adalah kemampuan padang penggembalaan untuk menghasilkan hijauan makanan ternak yang dibutuhkan oleh sejumlah ternak yang digembalakan dalam luasan satu hektar atau kemampuan padang penggembalaan untuk menampung ternak per hektar (Reksohadiprodjo, 1985).  Satu AU diasumsikan atas dasar konsumsi sapi perah dewasa non laktasi dengan berat 325 kg atau seekor kuda dewasa (Ensminger, 1961). AU pada setiap jenis dan umur fisiologis ternak tertera pada tabel berikut.

Jenis Ternak
AU per ekor
Jumlah Ternak per 1 ST
Kuda
Sapi
Pejantan
Sapi muda, umur lebih 1 tahun
Pedet
Anak kuda (colt)
Babi induk/pejantan
Babi yang dipelihara sampai berat 90 kg
Domba Induk/pejantan
Anak domba (cempe)
Ayam (setiap 100 ekor)
Anak ayam (setiap 200 ekor)
1,00
1,00
1,00
0,50
0,25
0,50
0,40
0,20
0,14
0,07
1,00
1,00
1
1
1
2
4
2
2,5
5
7
14
100
200
Sumber : Ensminger (1961)
            Departemen Pertanian (2009), mengatakan bahwa kapasitas tampung (carrying capacity) merupakan tekanan penggembalaan (stocking rate) optimal. Kapasitas tampung identik dengan tekanan penggembalaan (stocking rate) yaitu jumlah ternak atau unit ternak per satuan luas padang penggembalaan. Tekanan penggembalaan optimum merupakan pencerminan dari kapasitas tampung yang sebenarnya dari padang penggembalaan, karena baik pertumbuhan ternak maupun hijauan dalam keadaan atau merupakan pencerminan keseimbangan antara padang rumput dengan jumlah unit ternak yang digembalakan. Menurut Susetyo (1980), yang disitasi oleh Wiryasasmita (1985), kapasitas tampung adalah angka yang menunjukan satuan ternak yang dapat digembalakan di luasan tanah pangonan tertentu, selama waktu tertentu, dengan tidak mengakibatkan kerusakan baik terhadap tanah, vegetasi maupun ternaknya. Dengan demikian kapasitas tampung tersebut tergantung pada berbagai faktor seperti kondisi tanah, pemupukan, faktor iklim, spesies hijauan, serta jenis ternak yang digembalakan atau terdapat di suatu padangan.

Hal-hal yang Menentukan KapasitasTampung

            Penafsiran daya tampung menurut Halls et al. (1964) didasarkan pada jumlah hijauan yang tersedia. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan kapasitas tampung  menurut Kencana (2000) yaitu :

Penaksiran kuantitas produksi hijauan. umumnya dilakukan dengan metode cuplikan dengan memakai frame berukuran tertentu dengan bentuk yang bermacam-macam (persegi, bujur sangkar, lingkaran, atau segitiga). Pengambilan sampel di lapangan dilakukan secara acak. Banyaknya ditentukan dengan melihat homogenitas lahan yaitu komposisi botani, penyebaran produksi, serta topografi lahan. Hijauan yang terdapat dalam areal frame dipotong lebih kurang 5 -10 cm diatas permukaan tanah dan ditimbang beratnya.

Penentuan Proper Use Factor. Konsep Proper Use Factor (PUF) besarnya tergantung pada jenis ternak yang digembalakan, spesies hijauan di padangan, tipe iklim setempat beserta kondisi tanah padangan. Untuk penggunaan padangan ringan, sedang, dan berat nilai PUF-nya masing-masing adalah 25-30 %, 40-45 %, dan 60-70 %. Konsep ini digunakan dalam menaksir produksi hijauan antara lain karena jika lahan semakin mudah mengalami erosi dengan hamparan vegetasi rendah, sebaiknya tidak terlalu banyak hijauan di panen; jika hijauannya mempunyai pola pertumbuhan setelah panen lamban, maka sebaiknya tidak semua hijauan yang ada diperhitungkan untuk menentukan jumlah ternak yang akan dipelihara; semakin banyak jenis ternak yang dipelihara maka injakan ternak terhadap rerumputan mengakibatkan tidak 100 % hijauan yang ada dapat dikonsumsi ternak. Dapat disimpulkan bahwa Proper Use Factor tergantung pada jenis ternak yang digembalakan, tipe Iklim dan kondisi tanah.

Menaksir kebutuhan luas tanah per bulan. Penaksiran ini didasarkan pada kemampuan temak mengkonsumsi hijauan. Misalnya  kebutuhan seekor ternak sapi dewasa adalah 40 kg rumput per ha (10 % dari bobot badan) maka per bulan diperlukan 40 kg x 30 = 1.200 kg (1,2 ton) hijauan. Bila produksi hijauan 8 ton per ha, maka luas lahan yang dibutuhkan seekor sapi dewasa per bulan adalah 1,2/8 = 0,15 ha.

Menaksir kebutuhan luas tanah per tahun. Suatu padangan memerlukan masa agar hijauan yang telah dikonsumsi ternak tumbuh kembali dan siap untuk digembalakan lagi. Masa ini disebut sebagai periode istirahat. Padang rumput tropika membutuhkan waktu 70 hari untuk istirahat setelah digembalai selama 30 hari. Untuk menaksir kebutuhan luas tanah per tahun digunakan rumus Voisin dengan metode Hall et al. (1964), yaitu:
(Y– 1) s = r
Keterangan :
Y      =    Jumlah satuan luas tanah terendah yang dibutuhkan seekor ternak            per tahun terhadap kebutuhan per bulan
s        =    stay (periode merumput di setiap luasan tanah selama 30 hari)
r        =    rest (periode padang penggembalaan diistirahatkan untuk menjamin         pertumbuhan kembali adalah 10 minggu atau 70 hari).

Referensi

Ahmed, K. 2011. Fodder Plants, Everything You Want to Know – A Featured Article. 
           
Bell, A. 2006. Pasture Assessment and Livestock Production. NSW Department of Primary Industries, New South Wales.

Casale, R. 2012. Pasture Management. Natural Resources Conservation Service (NRCS) Office, Oregon.

Croker, K & Watt, P 2001, The good food guide for sheep: feeding sheep for meat production in the agricultural areas of Western Australia, Department of Agriculture Western Australia, Bulletin 4473, Perth.

Departemen Pertanian. 2009. Pedoman Teknis Perluasan Areal Padang Penggembalaan TA.2009. 

Ensminger, M.E., 1961. Swine Science. (Animal Agriculturel Series). Srd. edition. The Interstate Printers and Publishers Inc. Danville. Illinois.

FAO. 1994. Definition and Classification of Comodities. 

Halls, L.K., R.H. Hughs, R.L. Runmel and B.L. Southwel. 1964. Forage and Cattle Management in Longleaf Slaash Pine Forest. Farmer’s Bulletin, 2199, USA, Washington.

Kencana, S. 2000. Habitat Rusa Timor (Cervus Timorensis) dan Kapasitas Tampung Padangan Alam Taman Buru Pulau Rumberpon Manokwari.

Oregon Department of Agriculture. 2009. Pasture Management For Small Acreage Animal Owners. Natural Resources Conservation Service (NRCS) Office, Oregon.

Parakkasi, A. 1999. Ilmu Makanan Ternak Ruminansia. Cetakan pertama. Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta.

Reksohadiprodjo, S. 1985. Produksi Tanaman Hijauan Makanan Ternak Tropis. Edisi Kedua. BPFE. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.


Wiryasasmita, R. 1985. Potensi Tanah Pangonan di Desa Parerejo Kecamatan Purwodadi Kabupaten Pasuruan Jawa Timur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar di sini, tapi gunakan bahasa yang sopan & jangan menyinggung suku, agama / ras