Selasa, 13 Agustus 2013

Pembentukan Cangkang Telur dan Kualitas Eksterior Telur

Pembentukan Cangkang Telur
          Kalsifikasi cangkang telur dimulai sebelum telur masuk ke uterus. Telur tersebut berupa yolk yang telah mengalami pembungkusan oleh putih telur di magnum serta membran cangkang di isthmus. Waktu yang dibutuhkan untuk proses tersebut yaitu sekitar 180 menit di magnum dan 75 menit di isthmus. Sekelompok kecil kalsium telah terlihat pada membran cangkang bagian luar (outer shell membrane) sebelum telur meninggalkan isthmus. Cangkang pertama yang dibentuk yaitu inner shell berupa mammilary layer yang tersusun atas kristal kalsit, diikuti dengan outer shell yang dua kali lebih tebal daripada inner shell (Suprijatnaet al., 2005). Proses pembentukan cangkang telur memerlukan waktu sekitar 20 jam. Cangkang tersusun dari timbunan kalsium karbonat (CaCO3) dalam suatu matriks protein dan mukopolisakarida. Lapisan terakhir dari cangkang adalah lapisan kutikula, yaitu material organik yang melindungi telur dari mikroorganisme patogen dan meminimalkan penguapan air (Blakely dan Bade, 1998).
          Peningkatan kualitas cangkang dapat dicapai dengan menstabilkan aliran kasium dari gizzard ke pembuluh darah sepanjang pagi dan malam (Scott et al., 1971). Hal ini disebabkan karena sumber utama CaCO3 dalam pembentukan cangkang berasal dari ion bikarbonat (CO32-) dalam darah. Ion bikarbonat terbentuk dari reaksi antara CO2 dan H2O dalam darah dengan bantuan enzim karbonik anhidrase (Blakely dan Bade, 1998).
          Sebanyak CaCO3 87% keluar dari gizzard dalam waktu 12 jam, yaitu dari pukul 08.00 – 20.00. Sistem pencernaan ayam mengandung total kalsium yang lebih sedikit pada pagi hari (pukul 04.00 – 06.00) daripada saat malam (20.00 – 00.00) sehingga hanya sedikit kalsium yang tersedia pada saat proses pembentukan cangkang sedang berlangsung (Roland dan Harms, 1974).
          Rata-rata keseluruhan interval antara dua telur yang dikeluarkan dalam suatu clutch adalah 27 jam. Ovulasi pada ayam secara normal terjadi 30 menit setelah telur sebelumnya dikeluarkan. Jika sebutir telur keluar setelah pukul 14.00, ovulasi berikutnya tidak akan terjadi dalam waktu 16 – 18 jam (Blakely dan Bade, 1998). Hal ini berkaitan dengan kurangnya cahaya yang menstimulasi kelenjar pituitary untuk mensekresikan FSH yang merangsang kerja ovarium (Suprijatna et al., 2005).
Pemberian Pakan untuk Mengoptimalkan Kalsifikasi Cangkang
          Sumber kalsium untuk produksi cangkang telur yaitu dari pakan dan tulang. Secara normal berasal langsung dari pakan, tapi ada juga yang berasal dari timbunan kalsium tulang medulair terutama pada malam hari apabila ayam tidak makan (Suprijatna et al., 2005). Pakan yang dikonsumsi pada umumnya sudah habis tercerna pada saat pembentukan cangkang. Kalsium pakan yang tertinggal di saluran pencernaan sangat sedikit. Jika absorbsi kalsium yang ada tidak memenuhi kebutuhan pembentukan cangkang, kalsium diambil dari tulang (Riczu dan Korver, 2009).
          Pakan ayam petelur fase layer harus mengandung 3 – 4% kalsium (Harms et al., 1996). Rata-rata kebutuhan kalsium untuk ayam petelur tipe medium umur 21 – 40 minggu yaitu 3,00% sedangkan untuk umur lebih dari 40 minggu yaitu 3,25% (North dan Bell, 1990).
          Metode pengaturan waktu pemberian pakan yang efektif untuk mengoptimalkan kalsifikasi cangkang telah diteliti, salah satunya yaitu metode midnight feeding.Midnight feeding diterapkan dengan menyalakan lampu untuk menstimulasi ayam supaya mengkonsumsi pakan pada malam hari. Midnight feeding terbukti dapat meningkatkan kualitas cangkang telur dari segi ketebalan, kekuatan, persentase cangkang dari telur yang keluar pada pagi hari, yaitu sekitar jam 09.00 (Harms et al., 1996). Saat midnight feeding lampu dinyalakan selama  45 – 60 menit pada tengah malam agar ayam mengonsumsi pakan dan memperoleh tambahan kalsium langsung dari saluran pencernaan untuk pembentukan cangkang (Riczu dan Korver, 2009). Upaya lain adalah menggunakan bahan pakan sumber kalsium yang memiliki kelarutan rendah, yaitu lambat diabsorbsi ke dalam darah sehingga jumlah kalsium yang tersedia pada malam hari mencukupi untuk proses pembentukan cangkang (Hendrix Genetic Company, 2009).
Kualitas Eksterior Telur
          Kualitas eksterior telur antara lain ditentukan oleh cangkangnya, yaitu meliputi kebersihan, bentuk, tekstur, dan keutuhan. Keutuhan cangkang dinilai berdasarkan ada tidaknya retak pada cangkang sehingga sangat tergantung pada ketebalan dan kekuatan cangkang. Kekuatan cangkang berkaitan dengan suplai kalsium yang diperoleh saat proses pembentukan cangkang (Jacob et al., 2009). Telur ayam dengan bobot 58 g memiliki persentase cangkang sebesar 12,3% (Austic dan Nesheim, 1990). Spesifikasi telur ayam standar adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Spesifikasi Telur Ayam Standar
Parameter
Ukuran
Bobot (ons)
2,0
Bobot (g)
56,7
Volume (cm3)
63,0
Gravitas khusus
1,09
Panjang keliling (cm)
15,7
Lebar keliling (cm)
13,7
Indeks bentuk
74,0
Luas permukaan (cm2)
68,0
Sumber: Suprijatna et al., 2005.
Standar kualitas cangkang telur strain ISA Brown adalah sebagai berikut:
Tabel 2. Standar Kualitas Cangkang Telur Strain ISA Brown
SWUSA (mg/cm2)
Bobot Cangkang (g)
Ketebalan Cangkang (┬Ám)
75,6
5,27
302
74,3
5,21
290
74,0
5,23
296
73,7
5,16
294
73,0
5,05
286
70,9
4,97
280
Sumber: Hendrix Genetic Company, 2009.
DAFTAR PUSTAKA
Austic, R.E. dan M.C. Nesheim. 1990. Poultry Production. Lea and Febiger, Philadelphia.
Blakely, J. dan D.H. Bade. 1998. Ilmu Peternakan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta (Diterjemahkan Oleh B. Srigandono).
Harms, R.H., C.R. Douglas, dan D.R. Sloan. 1996. Midnight Feeding of Commercial Laying Hens can Improve Eggshell Quality. Journal of Poultry Applied Science Resources 5:1 -5.
Hendrix Genetic Company. 2009. ISA Brown Nutritional Management Guide.http://www.isapoultry.com. Diakses tanggal 12 Maret 2011 pk.20.04.
Jacob, J.P., R.D. Miles, dan F.B. Mather.2009. Egg Quality.InstituteofFoodand AgriculturalSciencesUniversityofFlorida,Gainesville.
North, M.O. dan D.D. Bell. 1990. Commercial Chicken Production Manual. VanNostrand Reinhold,New York.
Riczu, C. dan D. Korver. 2008. Effects of Midnight Feeding on the Bone Density and Egg Quality of Brown and White Table Egg Layers. Canadian Poultry Magazine (7): 35 – 38.
Roland, D.A., Sr. dan  RH. Harms, 1974. Specific Gravity of Egg in Relation to Egg Weight and Time of Oviposition. Journal of Poultry Sci. 53: 1494-1498.
Scott, M.L, S.J. Hull, and P.A. MulIenhoff, 1971.The Calcium Requirements of Laying Hens and Effects of Dietary Oyster Shell upon Eggshell Quality. Journal of Poultry Sci. 50: 1055-1063.
Suprijatna, E., U. Atmomarsono, dan R. Kartasudjana. 2005. Ilmu Dasar Ternak    Unggas. Penebar Swadaya, Jakarta.

Suprijatna, E. dan R. Kartasudjana. 2006. Manajemen Ternak Unggas. Penebar Swadaya, Jakarta.

LAPORAN PKL : MANAJEMEN PAKAN AYAM PETELUR DI PT CAHAYA SUPRANA DIVISI 2 GETASAN, KABUPATEN SEMARANG

BAB I
PENDAHULUAN
          Pakan merupakan salah satu faktor yang penting dalam usaha peternakan ayam petelur. Jumlah dan kandungan zat-zat pakan yang diperlukan harus memadai untuk mencapai pertumbuhan dan produksi yang optimal, tetapi apabila ditinjau dari aspek ekonomis, biaya pakan pada umumnya sangat tinggi hingga mencapai 70% dari total biaya produksi. Produksi yang efisien akan tercapai apabila tersedia pakan yang murah dan memenuhi kebutuhan zat-zat pakan. Dalam hal ini diperlukan manajemen yang baik untuk mengelola pemberian pakan. Baik buruknya manajemen pakan salah satunya dapat dilihat dari performa ayam petelur, yaitu meliputi konsumsi pakan per ekor ayam, produksi telur, bobot telur, dan konversi pakan.
          Tujuan pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan ini adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan manajemen pakan dilihat dari pengaruhnya terhadap performa ayam petelur di PT Cahaya Suprana Divisi 2, Getasan, Kabupaten Semarang, yaitu meliputi konsumsi pakan, hen day production, egg mass, dan  konversi pakan.Manfaat pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan ini adalah dapat memperoleh wawasan dan keterampilan mengenai manajemen pakan untuk memaksimalkan performa ayam petelur serta memperoleh keterampilan dalam mengevaluasi performa ayam petelur.
BAB II
 TINJAUAN PUSTAKA
2.1.      Ayam Petelur
          Ayam layer atau ayam petelur adalah ayam yang diternakkan khusus untuk menghasilkan telur konsumsi. Jenis ayam petelur dibagi menjadi tipe ayam petelur ringan dan medium. Tipe ayam petelur ringan mempunyai badan yang ramping dan kecil, bulu berwarna putih bersih, dan berjengger merah, berasal dari galur murni white leghorn, dan mampu bertelur lebih dari 260 telur per tahun produksihen house. Ayam petelur ringan sensitif terhadap cuaca panas dan keributan, responnya yaitu produksi akan menurun. Tipe ayam petelur medium memiliki bobot tubuh yang cukup berat, tidak terlalu gemuk, kerabang telur berwarna coklat,dan bersifat dwiguna (Bappenas, 2010). Ayam yang dipelihara sebagai penghasil telur konsumsi umumnya tidak memakai pejantan dalam kandangnya karena telur konsumsi tidak perlu dibuahi (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006).
          Produksi ayam dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain bangsa dan strain ayam yang digunakan, kondisi lingkungan di kandang, dan manajemen pakan (Bell dan Beaver, 2002; dikutip dalam Al Nasser et al., 2005). Strain adalah kelompok unggas dalam satu bangsa yang diseleksi menurut kriteria yang spesifik, yaitu umur saat dewasa kelamin, daya hidup, produksi telur, kualitas telur, atau kombinasi dari faktor-faktor tersebut. Macam – macam strain ayam petelur yang dikembangkan dari bangsa Leghorn antara lain Lohmann (LSL, White), Lohmann Brown, Hy-Line W-36 dan W-98, Hy-Line Brown, ISA White dan ISA Brown. Strain ayam petelur  berwarna coklat memiliki performa yang lebih unggul daripada strain ayam petelur berwarna putih. Persentase cangkang pada ISA Brown lebih besar daripada ISA White, selain itu bobot telur, egg mass, dan efisiensi pakannya juga lebih baik (Grobas et al., 2001; dikutip dalam Al Nasser et al.,2005).
2.2.      Manajemen Perkandangan
             Sistem perkandangan ayam petelur dapat berupa litter dan cage. Sistem litter menggunakan alas berupa sekam, serbuk gergaji, atau bahan lainnya. Sistem cage dapat berupa single bird cage (diisi satu ekor ayam, disebut juga kandang tipe baterai), multiple bird cage (diisi 2 ekor ayam atau lebih, tidak lebih dari 8 – 10 ekor), dan colony cage (diisi 20 – 30 ekor ayam). Lebar bangunan kandang untuk ayam petelur saat fase layer sebaiknya sekitar 8 m apabila tipe kandang terbuka, jika lebar kandang 12 m maka perlu dilengkapi dengan ridge ventilation. Jika ventilasi kurang baik, amoniak dari ekskreta akan mejadi racun bagi ayam, menimbulkan gangguan pernafasan, penurunan produksi, dan penyakit cacing untuk ayam yang dipelihara di kandang litter. Pemberian cahaya sebaiknya 14 jam per hari, yaitu kombinasi antara cahaya matahari dan cahaya lampu sebagai tambahan, tujuannya untuk meningkatkan produksi telur, mempercepat dewasa kelamin, mengurangi sifat mengeram, dan memperlambatmolting (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006). Suhu optimal untuk pemeliharaan ayam petelur strain Hy-Line Brown fase layer yaitu 18 – 27%, dengan batas kelembaban 40 – 60%. Intensitas cahaya sekitar 20 lux. Sistem kandang dapat berupa litter (kepadatan maksimum 8 ekor/m2), slat (kepadatan maksimum 10 ekor/m2) atau kombinasi litter-slat (kepadatan maksimum 9 ekor/m2). Sarang untuk bertelur berbentuk boks, satu sarang dengan ukuran 30 x 40 x 50 cm dapat digunakan maksimum untuk delapan ekor ayam. Sarang tidak diperlukan untuk kandang sistem cage (Hy-Line International, 2010).
          Cage dapat dibuat bertingkat hingga tiga deck atau lebih. Deck disusun membentuk frame A agar ekskreta ayam dari deck atas langsung jatuh ke lantai atau tempat penampungan ekskreta dan tidak jatuh ke deck di bawahnya. Partisi untuk cage dapat berupa solid (tertutup) atau wire. Partisi yang berbentuk wireberfungsi untuk mengoptimalkan pertukaran udara di dalam cage. Cage untuk ayam petelur dapat terbuat dari berbagai bahan seperti logam, plastik, kayu, atau bambu (Lelystad, 2004). Lantai cage dibuat agak miring agar telur dapat menggelinding ke tepi tempat telur sehingga memudahkan proses pengambilannya (Hy-Line International, 2010).
2.3.      Manajemen Pakan
2.3.1.   Gudang pakan
          Penyimpanan pakan perlu diperhatikan agar pakan tidak lembab atau rusak. Tempat penyimpanan pakan diusahakan bebas dari hama, baik serangga maupun tikus. Gudang pakan harus didesinfeksi serta kondisi ruangan harus kering (Rusman dan Siarah, 2005). Hal-hal yang perlu diperhatikan pada penyimpanan pakan di gudang antara lain:  lokasi gudang harus bebas dari genangan air, tidak boleh ada kebocoran atap, dan dilengkapi ventilasi cukup untuk mencegah kelembaban terlalu tinggi; lantai dilengkapi alas dari kayu atau bahan lainnya yang memiliki rongga agar tidak terjadi kontak langsung antara lantai dan karung pakan. Pakan tidak boleh disimpan lebih dari 1 minggu, dan pakan yang didatangkan lebih dulu ke gudang adalah yang digunakan terlebih dahulu (CJ Feed Indonesia, 2008).
2.3.2.   Ransum
          Ransum diartikan sebagai satu atau campuran beberapa jenis bahan pakan yang diberikan untuk seekor ternak selama sehari semalam (Manshur, 1998). Ransum adalah campuran berbagai macam bahan organik dan anorganik yang diberikan kepada ternak untuk memenuhi kebutuhan zat-zat makanan yang diperlukan bagi pertumbuhan, perkembangan, dan reproduksi. Agar pertumbuhan dan produksi maksimal, jumlah dan kandungan zat-zat makanan yang diperlukan ternak harus memadai (Suprijatna et al., 2005).
          Bahan pakan adalah bahan yang dapat dimakan, dicerna dan digunakan oleh hewan. Secara umum, bahan pakan adalah bahan yang dapat dimakan atauedible (Tillman et al., 1991). Bentuk fisik pakan ada beberapa macam, yaitu mash and limited grains (campuran bentuk tepung dan butiran), all mash (bentuk tepung), pellet (bentuk butiran dengan ukuran sama), crumble (bentuk butiran halus dengan ukutan tidak sama). Di antara keempat macam bentuk tersebut, bentuk pellet memiliki palatabilitas paling tinggi dan lebih tahan lama disimpan. Bentuk all mash atau tepung digunakan untuk tempat ransum otomatis, tetapi kurang disukai ayam, mudah tengik, dan sering menyebabkan kanibalisme yang tinggi (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006). Pakan untuk ayam petelur umur 0 – 6 minggu (fase starter) sebaiknya menggunakan pakan jadi buatan pabrik yang memiliki komposisi pakan yang tepat dan tekstur halus, sedangkan untuk fase grower dan layer dapat digunakan pakan hasil formulasi sendiri (Ditjennak, 2001).
2.3.2.1. Jagung giling. Berdasarkan kandungan zat-zat pakan, bahan pakan digolongkan menjadi empat yaitu sumber energi, sumber protein, sumber mineral, dan vitamin. Bahan pakan sumber energi mengandung karbohidrat tinggi sekitar 10%, contohnya jagung. Jagung kuning lebih baik daripada jagung putih karena mengandung pro vitamin A berupa xantofil. Vitamin A memberikan warna kuning pada kuning telur (Suprijatna et al., 2005). Jagung kuning merupakan bahan pakan sumber energi yang mengandung 8,6% protein kasar (PK); 3370 KKal/kg energi metabolisme (EM); 3,9 % lemak; 2% serat kasar (SK); 0,02% Ca; 0,3% total P (NRC, 1994). Jagung kuning yang baik mengandung 12 – 14% air, 0,14% Mg; 0,38% K; 1,03 mg/kg Co; 3 mg/kg Cu; 0,11 mg/kg I; 31 mg/kg Fe; 4 mg/kg Mn; 24 mg/kg Zn; 5,5 IU vitamin A; 29 IU vitamin D; 0,12 mg/kg biotin; 469 mg/kg kolin; 0,11 mg/kg asam folat; 29 mg/kg niasin; 4,1 mg/kg asam pantotenat; 3,4 mg/kg vitamin B6; 1,6 mg/kg riboflavin; dan 5,7% thiamin (Kearl, 1982), serta 1,75% asam linoleat (Hy-Line International, 2010).
2.3.2.2. Bekatul. Bekatul mengandung kulit ari beras tanpa sekam, berasal dari hasil samping penggilingan padi. Bekatul merupakan bahan pakan sumber energi dan vitamin B, dapat digunakan hingga 25% dari ransum ayam (FAO, 2009). Penggunaan bekatul harus dibatasi karena mengandung pitat dalam ikatan fosfor pitat sehingga daya cernanya rendah, mudah tengik, dan mengganggu penyerapan kalsium (Suprijatna et al., 2005). Bekatul yang merupakan bahan pakan mengandung 12% protein, 2860 kkal/kg EM, 12 % lemak, 3% SK, 0,04% Ca, 1,4% total P (NRC, 1994).
2.3.2.3. Bungkil kedelai. Bungkil kedelai merupakan bahan pakan sumber protein yang berasal dari sisa proses produksi pertanian. Kandungan nutrisi bungkil kedelai yaitu 47,5% PK; 2.400 KKal/kg EM; 0,5% lemak; 3,0% SK; 0,2% Ca; 0,75% metionin; 3,2% lisin (Alien, 1982). Kadar air bungkil kedelai yang baik maksimal 15%, dengan kandungan lemak kasar 8,8% dan 5,7% abu (Kearl, 1982).
2.3.2.4. Meat bone meal. Meat Bone Meal (MBM) merupakan bahan pakan sumber protein yang berasal dari sisa-sisa proses produksi di Rumah Pemotongan Hewan (RPH), yaitu dari hasil trimming karkas, karkas yang tidak memenuhi syarat untuk dikonsumsi manusia, organ seperti hati dan paru-paru, bagian yang tidak dapat dimakan (inedible offal) seperti tulang, serta hasilrendering dari ternak yang mati. Kandungan abu MBM yang normal yaitu 28 – 36%, kandungan abu yang sangat tinggi menunjukkan bahwa MBM lebih banyak mengandung tulang. Kandungan asam amino MBM yaitu 5,9% arginin; 0,7% sistin; 14,1% glisin; 1,4% histidin; 2,6% isoleusin; 6,5% leusin; 5,0% lisin; 1,4% metionin; 3,1% fenilalanin; 3,4% treonin; 1,1% triptofan; 1,7% tirosin; dan 4,7% valin (FAO, 2010). Kadar air MBM berkisar antara 3,0 – 11,2% dan mengandung 49,0 – 52,8% PK; 8,5 – 14,8% LK; 6,0 – 12,0% Ca; 3,5 – 5,0% total P; dan 1.770 – 2.420 MKal/kg EM (Miles dan Jacob, 2009).
2.3.2.5. Tepung ikan. Tepung ikan umumnya terbuat dari ikan-ikan kecil dan ikan yang tidak dimanfaatkan lagi untuk manusia (Suprijatna et al., 2005). Standar kadar air tepung ikan yaitu maksimal 13% dan kadar abunya 24% (Kearl, 1982). Semakin tinggi kadar abu menunjukkan bahwa tepung ikan bermutu rendah karena lebih banyak terbuat dari tulang ikan. Kandungan nutrisi tepung ikan pada umumnya yaitu 62,0% PK; 10,2% lemak; 1,0% SK; 5,0% Ca; 2.950 Kkal/kg EM; 1,8% metionin; dan 4,7% lisin (Alien,1982).
2.3.2.6. Grit. Gizzard ayam mengandung material yang bersifat menggiling seperti batu kerikil atau grit (Suprijatna et al., 2005). Tujuan penggunaan grit adalah untuk membantu pencernaan pakan kasar dan berserat (Blakely dan Bade, 1998). Grit yang terbuat dari cangkang kerang dan cangkang telur dapat membantu pencernaan mekanik di gizzard dan menjadi sumber mineral seperti Ca, Mg, dan P (Shirt, 2010).
2.3.2.7. Zat aditif. Zat aditif berfungsi agar zat makanan bisa ditelan, dicerna, dilindungi dari kerusakan, diserap dan ditranspor keseluruhan tubuh untuk keperluan hidup pokok dan produksi ternak unggas (Rizal, 2006). Zat aditif dapat bersifat nutritive maupun non nutritive. Zat aditif yang bersifat nutritiveberfungsi untuk melengkapi kandungan nutrisi pakan, antara lain asam amino, vitamin, dan trace mineral (Shirt, 2010). Premix merupakan sumber vitamin dan mineral yang ditambahkan dalam ransum untuk melengkapi kebutuhan vitamin dan mineral yang belum tercukupi dari bahan pakan. Premix digunakan maksimal sebanyak 2,5% dalam ransum ayam (Wafi, 2011). Kandungan premix antara lain vitamin A, D, E, K, B1, B2, B6, B12, asam pantotenat, asam nikotinat, asam folat, biotin, kolin; mineral Fe, Mn, Cu, Zn, I, Co, Se; serta antioksidan (Interchemie, 2010). Zat aditif yang bersifat non nutritive pada pakan unggas adalah antibiotik, arsenikal, nitrofuran, obat-obatan, dan antioksidan (Blakely dan Bade, 1998).
2.3.3.   Kebutuhan nutrisi ayam petelur
          Periode pertumbuhan ayam petelur dapat dibagi menjadi periode grower (umur 1 hari – 8 minggu), developer (umur 8 – 16 minggu), dan pre-lay (umur 17 – 24 minggu). Kebutuhan nutrisi periode grower yaitu 18,6% PK dan 3870 kkal/kg EM. Kebutuhan nutrisi periode developer yaitu 14,9% PK dan 2750 kkal/kg EM. Kebutuhan nutrisi periode pre-lay yaitu 18,0% PK dan 2755 kkal/kg EM  (Al Nasser et al., 2005).
          Jika energi pakan saat fase layer terlalu rendah (kurang dari 2600 kkal), konsumsi pakan lebih banyak sehingga FCR meningkat dan efisiensi pakan menurun. Sebaliknya jika energi pakan terlalu tinggi akan terjadi penurunan konsumsi (Harms et al., 2000). Kebutuhan PK dan EM pada fase layer tidak sama, tergantung dari umur ayam, produksi telur, dan konsumsi pakan. Hal yang perlu diperhatikan yaitu makin sedikit jumlah pakan yang dikonsumsi, kandungan PK dan EM harus ditingkatkan. Kebutuhan PK dan EM fase layer pada berbagai tingkatan umur dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Kebutuhan PK dan EM Fase Layer untuk Strain Hy-Line Brown
Umur
27 – 32 minggu
33 – 44 minggu
45 – 58 minggu
≥ 59 minggu
Hen Day Production
94 – 96%
89 – 93%
85 – 88%
< 85%
Konsumsi
93 – 113 g
100 – 120 g
100 – 120 g
99 – 119 g
Kebutuhan PK
15,04 – 18,28%
13,96 – 16,75%
13,33 – 16%
13,03 – 15,66%
Kebutuhan EM
2778 – 2867 Kkal/kg
2734 – 2867 Kkal/kg
2679 – 2867 Kkal/kg
2558 – 2833 Kkal/kg
Sumber: Hy-Line Internasional, 2010.
Protein pakan sebagian besar digunakan untuk produksi telur, hanya sebagian kecil untuk hidup pokok. Semakin tinggi tingkat produksi maka kebutuhan protein juga semakin tinggi (Suprijatna et al., 2005). Protein pakan harus mencukupi kebutuhan asam-asam amino untuk menunjang produksi yang optimal (Leeson, 2008). Kebutuhan asam amino bagi ayam petelur fase layer dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Standar Kebutuhan Asam Amino untuk Strain Hy-Line Brown
Umur
27 – 32 minggu
33 – 44 minggu
45 – 58 minggu
≥ 59 minggu
HDP
94 – 96%
89 – 93%
85 – 88%
< 85%
Lisin (mg)
931
920
876
821
Metionin (mg)
448
443
422
395
Metionin + Sistin (mg)
805
815
776
727
Treonin (mg)
700
692
659
618
Triptofan (mg)
213
211
201
188
Arginin (mg)
978
966
920
863
Isoleusin (mg)
722
714
680
637
Valin (mg)
844
834
794
744
Sumber: Hy-Line Internasional, 2010.
Kebutuhan vitamin dan mineral untuk ayam petelur strain Hy-Line Brown fase layer dapat dilihat pada Tabel 3 dan 4.
Tabel 3. Standar Kandungan Vitamin Ransum pada Fase Layer
Vitamin
Kandungan dalam 1000 Kg Ransum
Vitamin A (IU)
8.000.000*
Vitamin D(IU)
500.000**
Vitamin E (IU)
5.000**
Vitamin K (mg)
500**
Thiamin (mg)
1.700*
Riboflavin (mg)
5.500*
Asam pantotenat (mg)
6.600*
Niasin (mg)
28.000*
Piridoksin (mg)
3.300*
Biotin (mg)
100**
Kolin (mg)
500.000**
Vitamin B12 (mg)
22,18*
Sumber: *  Hy-Line Internasional, 2010
**North danBell, 1990.

Tabel 4. Kebutuhan Mineral Ayam Petelur Tipe Medium pada Fase Layer
Mineral
Umur 21 – 40 minggu
Umur > 40 minggu
Kalsium (%)
3,00
3,25
Fosfor (total, %)
0,50
0,50
Natrium (mg/kg)
0,15
0,15
Mangan (mg/kg)
110
110
Seng (mg/kg)
50
50
Sumber: North dan Bell, 1990.
          Kalsium dan fosfor merupakan mineral utama yang diperlukan untuk pembentukan cangkang telur. Pakan ayam petelur fase layer harus mengandung kalsium sebanyak 3 – 4% (Harms et al., 1996). Defisiensi kalsium akan menyebabkan cangkang telur menjadi tipis dan mudah retak. Jika absorbsi kalsium pakan tidak memenuhi kebutuhan pembentukan cangkang, kalsium diambil dari tulang medulair (Riczu dan Korver, 2009). Imbangan Ca : P yang terlalu luas dapat menimbulkan ricketsia, yaitu tiap unsur yang berlebihan menyebabkan mengendapnya unsur lain di dalam usus sehingga tidak bisa dimanfaatkan tubuh. Imbangan Ca : P sebaiknya sebesar 9 : 1 saat puncak produksi, 11 : 1 saat produksi sebesar 89 – 93%, selanjutnya 13 : 1 hingga ayam diafkir  (Hy- Line International, 2010).
          Lemak merupakan sumber energi tinggi dalam pakan unggas. Asam linoleat dan arakhidonat adalah asam lemak esensial karena tidak dapat disintesis tetapi harus ada di dalam pakan. Pakan yang tidak mengandung cukup asam linoleat menyebabkan pertumbuhan terhambat, terjadi akumulasi lemak di hati, dan lebih rentan terhadap infeksi pernafasan. Defisiensi asam arakhidonat pada ayam petelur menyebabkan ukuran telur kecil. Asam arakhidonat dapat disintesis dari asam linoleat (Suprijatna et al., 2005). Standar kebutuhan asam linoleat dalam pakan ayam petelur fase layer dari umur 27 minggu hingga lebih dari 59 minggu adalah 1,00 g/hari (Hy-Line International, 2010).
2.3.4.   Tempat pakan dan minum
          Tempat pakan dan minum yang dipelihara dalam sistem litter umumnya berupahanging feeder atau hanging waterer. Hanging feeder ditempatkan setinggi punggung ayam, sedangkan tempat minum setinggi leher ayam. Perusahaan besar pada umumnya menggunakan tempat pakan dan minum otomatis. Tempat pakan dan minum untuk kandang sistem cage umumnya berbentuk trough (memanjang) (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006). Tempat pakan berbentuk trough untuk pemeliharaan strain Hy-Line Brown pada sistem cage sebaiknya sedalam 9 cm, tempat minum sedalam 2,5 cm. Satu trough  dapat dibuat untuk 12 ekor ayam. Untuk kandang yang menggunakan hanging feeder dan hanging waterer, satu tempat pakan maksimum untuk 30 ekor ayam, sedangkan satu tempat minum (berbentuk nipple drinker) maksimum untuk 10 ekor ayam (Hy-Line International, 2010).
2.3.5.   Tata laksana pemberian pakan
          Rata-rata ayam petelur fase layer strain Hy–Line Brown mengkonsumsi 114 – 120 gram pakan per hari sehingga pemberian pakan tiap hari sekitar 120 gram per ekor ayam. Air merupakan komponen nutrien yang paling penting, apabila ayam kekurangan air minum, konsumsi pakan akan menurun sehingga produktivitasnya menurun. Air minum hanya dibatasi pada saat-saat tertentu, misalnya sebelum vaksinasi melalui air minum (Hy-Line International, 2010). Ayam dapat bertelur dengan optimal apabila pakan diberikan secara ad libitum, yaitu selalu tersedia sepanjang hari. Pakan bentuk pellet memiliki palatabilitas yang paling baik. Bentuk pakan seperti campuran crumble dan mash umum digunakan dalam ransum hasil formulasi sendiri dan relatif lebih ekonomis. Ayam harus distimulasi untuk mengkonsumsi pakan, salah satunya dengan memberikan biji-bijian setengah hancur, misalnya jagung. Pakan di dalam tempat pakan diusahakan selalu kering dan diganti dengan yang baru setiap hari untuk mencegah timbulnya jamur.  Air bersih untuk minum harus selalu tersedia atau ad libitum (Shirt, 2010).
          Pemberian pakan saat tengah malam (midnight feeding) dapat dilakukan apabila diberikan cahaya yang cukup, yaitu dari lampu. Tujuan night feeding dan midnight feeding yaitu memberikan kesempatan bagi ayam untuk meningkatkan suplai kalsium dari saluran pencernaan secara langsung untuk pembentukan cangkang telur. Hal ini mencegah pengambilan kalsium dari tulang yang meningkatkan risiko pengeroposan tulang saat ayam mulai tua. Waktu pemberian pakan di pagi atau siang hari menyebabkan ayam mengabsorbsi zat-zat pakan sebagian besar untuk  hidup pokok dalam sehari, regenerasi sel, mengatasi pengaruh lingkungan seperti cuaca sehingga tidak semuanya dimaksimalkan untuk pembentukan telur.Midnight feeding berlangsung saat telur sedang dibentuk sehingga materi pembentuknya dapat ditambahkan dari zat-zat pakan yang diabsorbsi oleh saluran pencernaan (Riczu dan Korver, 2009). Midnight feeding terbukti dapat meningkatkan kualitas cangkang telur dari segi ketebalan, kekuatan, persentase cangkang dari telur yang keluar pada pagi hari, yaitu sekitar jam 09.00 (Harms et al., 1996).
2.4.      Manajemen Pencegahan dan Penanganan Penyakit
             Biosekuriti merupakan metode terbaik untuk mencegah penyakit. Prosedur yang diterapkan dalam biosekuriti antara lain yaitu tidak mengunjungiflock ayam sehat setelah mengunjungi flock ayam sakit, melakukan fumigasi dan disinfeksi kandang sebelum kedatangan pullet. Pemeliharaan dengan sistem all in all out dalam suatu flock juga dapat mencegah penularan penyakit dari ayam tua ke ayam muda karena dalam sistem tersebut ayam pengadaan pullet dan pengafkiran dilakukan secara menyeluruh sehingga umur ayam yang dipelihara sama (Hy-Line International, 2010). Fumigasi dilakukan dengan menyemprotkan gas formaldehyde di kandang dan sekitarnya untuk mencegah penularan penyakit yang disebabkan oleh bakteri, protozoa, dan virus (Blakely dan Bade, 1998).
          Beberapa jenis penyakit menyebar dengan luas dan sulit diberantas sehingga harus dilakukan  vaksinasi rutin. Program vaksinasi yang wajib untuk ayam petelur antara lain untuk mencegah Newcastle Disease (ND), Infectious Bronchitis (IB),Infectious Bursal Disease (IBD), dan Avian Encephalomyelitis (AE) (Hy-Line International, 2010). Teknik vaksinasi antara lain dengan metode tetes mata (ocular), injeksi subcutan, air minum, maupun spray. Vaksin dengan metode tetes mata misalnya vaksin ND – IB untuk anak ayam berumur 3 hari. Metode injeksi intramuskuler misalnya vaksin ND untuk ayam usia 16-17, 30 dan 50 minggu. Metode wing web injection (tusuk sayap) misalnya vaksin fowl pox dan AE untuk ayam usia 18 minggu. Metode pemberian vaksin dengan air minum misalnya vaksin IBD (Gumboro) untuk ayam usia 32 dan 52 minggu serta vaksin ND La Sota. Metode pemberian vaksin melalui  spray misalnya vaksin coccidiosis live untuk DOC (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006; Spoolder, 2007).
          Penyakit yang disebabkan oleh bakteri antara lain fowl cholerae dan infectious coryzae. Penyakit yang disebabkan oleh virus antara lain fowl pox. Penyakit yang disebabkan oleh protozoa antara lain leukosis. Penyakit parasit internal terutama disebabkan oleh cacing. Penyakit parasit eksternal disebabkan oleh kutu dan tungau (Blakely dan Bade, 1998). Fowl cholerae merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Pasteurella multocida yang ditandai dengan gejala diare, dalam kondisi kronis menyebabkan jengger dan pial bengkak, diare berwarna kuning hingga hijau, dan pembengkakan sendi. Pengobatannya yaitu dengan injeksi sulfadoxin secara intramuskuler. Infectious coryza disebabkan oleh bakteriHaemophilus gallinarum dengan gejala kesulitan bernafas, keluar lendir dari nostril dan mata, dalam kondisi kronis muka dan sekitar mata membengkak akibat penggumpalan eksudat. Pengobatannya yaitu dengan injeksi sulfadimetoksin dan streptomisin (Meerburg dan Kiljstra, 2007; Kartasudjana dan Suprijatna, 2006).
          Fowl pox ditandai dengan tonjolan kehitaman pada jengger dan pial, disebabkan oleh virus Borreliota avium dan dapat dicegah dengan vaksinasi. Leukosis ditandai dengan pembengkakan hati dan limpa yang disebabkan oleh virus maupun protozoa seperti Plasmodium sp. yang ditularkan oleh nyamuk Anopheles. Leukosis yang disebabkan oleh Plasmodium sp. dapat diobati dengan injeksi sulfa, seperti sulfamonometoksin (Blakely dan Bade, 1998; Bappenas, 2010). Cacing parasit misalnya Ascaridia galli pada usus dan Heterakis gallinarum pada ceca, pengobatannya yaitu dengan Piperazine, Albendazole, dan Flubendazole (Hy-Line International, 2010).
2.5.      Manajemen Penanganan Telur
          Kualitas eksterior telur antara lain ditentukan oleh cangkangnya, yaitu meliputi kebersihan, bentuk, tekstur, dan keutuhan. Pengambilan telur dalam satu hari minimal empat kali supaya telur yang didapat bersih dan mengurangi resiko telur pecah karena terinjak oleh ayam (Sudaryani dan Santosa, 2000). Penimbangan telur dilakukan bersamaan dengan pengepakan dan tidak mengikutkan telur yang pecah. Penimbangan diperlukan dalam suatu penjualan dari peternak ke pedagang atau konsumen terakhir, satuan yang dipakai adalah berat dan di Indonesia biasanya adalah kilogram (Adiwilaga, 1982).
          Tujuan pengepakan telur konsumsi adalah untuk mencegah kebusukan dan berperan dalam menjaga agar telur tetap bersih dan biasanya pembungkusan dengan peti kayu (Winarno dan Jennie, 1983). Setiap perusahaan menyimpan produknya sebelum terjual, dalam hal ini fungsi gudang diperlukan karena siklus produksi dan konsumsi jarang sesuai, sehingga kelancaran dalam suatu pemasaran dapat terjaga (Kotler, 1997).
2.6.      Evaluasi Performa Ayam Petelur
2.6.1.      Konsumsi pakan
          Konsumsi pakan ayam layer pada fase starter yaitu 1,08±0,05 kg per ekor, pada fase grower yaitu 4,14 ± 0,11 kg per ekor, pada fase layer yaitu 31,2 ± 1,12 kg per ekor (Mussawar et al., 2004). Konsumsi pakan per hari pada Hy-Line Brown rata-rata sebesar 114 g (Hy-Line International, 2010). Konsumsi pakan dipengaruhi oleh strain, umur, keseimbangan nutrisi pakan, status kesehatan ayam, keterjangkauan pakan oleh ayam, dan temperatur lingkungan (Iji, 2005).
2.6.2.      Produksi telur
          Untuk menghitung produksi telur dikenal istilah hen housed production dan hen day production. Hen housed production merupakan ukuran produksi telur yang didasarkan pada jumlah ayam mula-mula yang dimasukkan ke dalam kandang (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006). Hen day production (HDP) dihitung dari jumlah produksi telur hari itu dibagi dengan jumlah ayam produktif hari itu dikalikan 100% (North, 1984; dikutip dalam Kabir dan Haque, 2010). Puncak produksi strain Hy-Line Brown yaitu 27 – 29 minggu dengan kisaran hen day 94–96% (Hy-Line International, 2010). Semakin lama periode bertelur, semakin rendah HDP (Mussawar et al., 2004).
2.6.3.      Egg mass
          Egg mass adalah perkalian antara persentase produksi telur dengan rata-rata bobot telur (Pritchard, 2005).  Rata-rata egg mass pada strain Hy-Line Brown yaitu 50,4 – 55,3 g/hari (Hy-Line International, 2010) Berat telur sering dipakai sebagai kriteria seleksi untuk ayam petelur (Kabir dan Haque, 2010).  Penggolongan telur berdasarkan bobotnya ada enam, yaitu jumbo (68,5 – 70,8 g), extra large (63,8 – 68,4 g), large (56,7 – 63,7 g), medium (49,6 – 56,6 g),small (42,5 – 49,8 g), dan peewee (35,4 – 42,4 g) (USDA, 2000).
          Bobot telur dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu genetik, umur induk, pakan, sistem pemeliharaan, dan lingkungan (Arthur dan O’Sullivan, 2010). Bobot telur semakin meningkat apabila umur ayam meningkat. Persentase bobot cangkang semakin menurun karena isi telur meningkat, akibatnya rasio cangkang dan isi telur menurun. Kelembaban yang semakin rendah menyebabkan bobot telur semakin menurun (Roberts dan Ball, 2003). Pakan yang mengandung EM terlalu tinggi, yaitu lebih dari 2800 kkal pada fase layer menyebabkan penurunan bobot telur (Harms et al., 2000).
2.6.4.      Feed convertion ratio
          Feed Convertion Ratio (FCR) atau konversi pakan merupakan perbandingan antara ransum yang dihabiskan ayam dalam menghasilkan sejumlah telur. Keadaan ini sering disebut dengan ransum per kilogram telur. Ayam petelur yang baik akan makan sejumlah ransum dan menghasilkan telur yang lebih banyak daripada sejumlah ransum yang dimakannya (Bappenas, 2010). FCR ayam layer umumnya sebesar 2,33 ± 0,04 (Mussawar et al., 2004). Standar FCR bagi ayam layer strain Hy-Line Brown yaitu sebesar 2,05 pada umur 21 – 72 minggu (Hy-Line International, 2010).
BAB III
 MATERI  DAN METODE
             Praktek Kerja Lapangan dengan judul Manajemen Pakan Ayam Petelur di PT Cahaya Suprana Divisi 2, Getasan, Kabupaten Semarang dilaksanakan pada tanggal 29 Januari – 3 Maret 2011 di peternakan ayam petelur PT Cahaya Suprana Divisi 2, Getasan, Kabupaten Semarang.
 3.1.       Materi
             Materi yang diamati adalah peternakan ayam petelur PT Cahaya Suprana Divisi 2. Objek yang diamati di perusahaan tersebut adalah ayam petelur strain Hy-Line Brown, pakan ayam petelur fase layer, telur, kandang ayam petelur, vaksin ND La Sota, antibiotik, dan air minum.
3.2.      Metode
             Metode yang digunakan adalah survei, studi kasus mengenai manajemen pakan ayam petelur, dan partisipasi aktif. Partisipasi aktif yaitu ikut melaksanakan pemeliharaan ayam yang meliputi kegiatan pemberian pakan pada pukul 13.00,  pengambilan telur pada pukul 09.00 dan 13.00, vaksinasi ND melalui air minum, dan mengemas telur dalam egg tray karton dan peti kayu.
          Pengambilan data dilakukan untuk memperoleh data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara dengan manajer perusahaan, pemilik perusahaan, pegawai kandang, dan pegawai gudang telur untuk mengetahui sejarah dan keadaan umum perusahaan, manajemen pakan dan pemeliharaan secara umum, serta proses penanganan telur hingga pendistribusiannya. Data sekunder yang diperoleh yaitu meliputi  data recording jumlah populasi ayam per hari, konsumsi pakan, produksi telur, dan layout kandang. Data tersebut digunakan untuk menghitung performans ayam petelur yang meliputi rata-rata konsumsi, hen day production, egg mass, dan konversi pakan (Feed Convertion Ratio).
DAFTAR PUSTAKA 
Adiwilaga, A. 1982. Ilmu Usaha Tani. Penerbit Alumni, Bandung.
Alien, R.D. 1982. Feedstuff Ingredient Analysis Table. Feedstuff 54 (30): 25 – 30.
Al Nasser, A., A. Al Saffar, M. Mashaly, H. Al Khalaifa, F. Khalil, M. Al Baho, dan A. Al Haddad. 2005. A comparative study on production efficiency of brown and white pullet. Bulletin of Kuwait Institute for Scientific Research 1 (1): 1 – 4.
 Arthur, J.A. dan N. O’Sullivan. 2010. Breeding chickens to meet egg quality needs. International Hatchery Practice 19 (7) : 7 – 9.
Bappenas. 2010. Beternak Ayam Petelur. http://www.ristek.go.id. Diakses tanggal 5 Mei 2010 pk. 13.57.
Blakely, J. dan D.H. Bade. 1998. Ilmu Peternakan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta (Diterjemahkan Oleh B. Srigandono).
CJ Feed Indonesia Corporation. 2008. Memaksimalkan Produksi Ayam Petelur.http://cjfeed.co.id_ index.htm. Diakses tanggal 29 April 2010 pk. 19.59.
Direktorat Jenderal Peternakan. 2001. Peraturan Menteri Pertanian tentang Peternakan Ayam Broiler dan Petelur. http://deptan.go.id. Diakses tanggal 29 Maret 2010 pk.19.05.
FAO. 2009. Animal Feed Resources Information System: Oryza sativa. http://www. fao.org/ag. Diakses tanggal 4 Maret 2010 pk. 22.03.
FAO.   2010. Meat and Bone Meal, Meat Meal, Slaughterhouse By Product Meal.http://www.fao.org/ag/Aga/agap/frg/afris/Data/316.htm. Diakses tanggal 4 Maret 2011 pk.21.44.
Harms, R.H., C.R. Douglas, dan D.R. Sloan. 1996. Midnight feeding of commercial laying hens can improve eggshell quality. Journal of Poultry Applied Science Research 5 :1 -5.
Harms, R.H., G.B. Russel, dan D.R. Sloan. 2000. Performance of four strains pf commercial layers with major changes in dietary energy. Journal of Applied Poultry Research 9: 535 – 541.
Hy-Line International. 2010. Hy-Line Brown Intensive Systems Performance Standards. http://www.hyline.com/redbook/performance. Diakses tanggal 16 Januari 2011 pk. 15.57.
Iji, P. 2005. Feed Intake. http://www.poultryhub.org/index.php/Feed_intake. Diakses tanggal 29 Maret 2010 pk. 18.56.
Interchemie. 2010. Poultry Layer Pemix. http://www.interchemie.com/ feed-additives/introvit-poultry-layer-premix.html. Diakses tanggal 4 Maret 2011 pk 22.30.
Kabir, F. dan M.T. Haque. 2010. Study on production performance of ISA Brown strain at Krishibid Firm, Ltd., Trishal, Mymensingh. BangladeshResearch Publications Journal 3 (3): 1039 – 1044.
Kotler, P. 1997. Dasar – Dasar Pemasaran. Jilid 2.Prehalindo,Indonesia.
Leeson, S. 2008. Production for commercial poultry nutrition. Journal Applied Poultry Research  (17): 315 – 322.
Kartasudjana, R. dan E. Suprijatna. 2006. Manajemen Ternak Unggas. Penebar Swadaya, Jakarta.
Lelystad, P.V. 2004. Welfare aspects of various systems for keeping laying hens. The EFSA Journal (197): 1-23.
Meerburg, B.G dan A. Kiljstra. 2007. Role of rodents in salmonella and campylobacter transmission. Journal of Science Food Agriculture (87): 2774 – 2781.
Miles, R.D. dan J.P. Jacob. 2009. Using Meat and Bone Meal in Poultry Diet.University of Florida,Florida.
Mussawar, S., T.M. Durrani, K. Munir, Z. ul-Haq, M.T. Rahman, dan K. Sarbiland. 2004. Status of layer farms in Peshawardivision, Pakistan. Livestock Research for Rural Development 16 (5) : 25 – 27.
National Research Council (NRC). 1994. Nutrient Requirements of Poultry.NationalAcademyPress,WashingtonDC.
North, M.O. dan D.D. Bell. 1990. Commercial Chicken Production Manual. VanNostrand Reinhold,New York.
Pritchard, S. 2005. Using Egg Mass as a Tool. http: //www.Questia.com/Journals. Diakses tanggal 29 Maret 2010 pk. 18.34.
Riczu, C. dan D. Korver. 2008. Effects of midnight feeding on the bone density and egg quality of brown and white table egg layers. Canadian Poultry Magazine (7): 35 – 38.
Roberts, J.R dan W. Ball. 2003. Egg and egg shell quality guidelines for the Australian egg industry. Proceeding Australian Poultry Science Symposium 2003: 91 – 94.
Shirt,  V.  2010.  How to Feed Chickens Part 2.  http://www.poultry.allotreatment.org.uk/keeping-chickens/feeding-chickens_2.php. Diakses tanggal 4 Maret 2011 pk 23.04.
Spoolder, H.A.M. 2007. Perspective animal welfare in organic farming system. Journal of Science Food Agriculture 87: 2741 – 2746.
Sudaryani, T dan H. Santosa. 2000. Pembibitan Ayam Ras. Cetakan V. Penebar Swadaya, Jakarta.
United States Department of Agriculture (USDA). 2000. United StatesStandards, Grade,  and  Weight  Classes  for  Shell  Eggs.  http://www.ams.usda.gov/poultry. Diakses tanggal 14 Januari 2011 pk. 11.12.
Wafi. 2011. Poultry Feed. http://www.wafi.nl/poultry-feed. Diakses tanggal 4 Maret pk. 22.17.

Winarno, F.G dan B.S.L. Jennie. 1983. Kerusakan Bahan Pangan dan Cara Pencegahannya. Ghalia Indonesia, Jakarta.