Selasa, 13 Agustus 2013

Pembentukan Cangkang Telur dan Kualitas Eksterior Telur

Pembentukan Cangkang Telur
          Kalsifikasi cangkang telur dimulai sebelum telur masuk ke uterus. Telur tersebut berupa yolk yang telah mengalami pembungkusan oleh putih telur di magnum serta membran cangkang di isthmus. Waktu yang dibutuhkan untuk proses tersebut yaitu sekitar 180 menit di magnum dan 75 menit di isthmus. Sekelompok kecil kalsium telah terlihat pada membran cangkang bagian luar (outer shell membrane) sebelum telur meninggalkan isthmus. Cangkang pertama yang dibentuk yaitu inner shell berupa mammilary layer yang tersusun atas kristal kalsit, diikuti dengan outer shell yang dua kali lebih tebal daripada inner shell (Suprijatnaet al., 2005). Proses pembentukan cangkang telur memerlukan waktu sekitar 20 jam. Cangkang tersusun dari timbunan kalsium karbonat (CaCO3) dalam suatu matriks protein dan mukopolisakarida. Lapisan terakhir dari cangkang adalah lapisan kutikula, yaitu material organik yang melindungi telur dari mikroorganisme patogen dan meminimalkan penguapan air (Blakely dan Bade, 1998).
          Peningkatan kualitas cangkang dapat dicapai dengan menstabilkan aliran kasium dari gizzard ke pembuluh darah sepanjang pagi dan malam (Scott et al., 1971). Hal ini disebabkan karena sumber utama CaCO3 dalam pembentukan cangkang berasal dari ion bikarbonat (CO32-) dalam darah. Ion bikarbonat terbentuk dari reaksi antara CO2 dan H2O dalam darah dengan bantuan enzim karbonik anhidrase (Blakely dan Bade, 1998).
          Sebanyak CaCO3 87% keluar dari gizzard dalam waktu 12 jam, yaitu dari pukul 08.00 – 20.00. Sistem pencernaan ayam mengandung total kalsium yang lebih sedikit pada pagi hari (pukul 04.00 – 06.00) daripada saat malam (20.00 – 00.00) sehingga hanya sedikit kalsium yang tersedia pada saat proses pembentukan cangkang sedang berlangsung (Roland dan Harms, 1974).
          Rata-rata keseluruhan interval antara dua telur yang dikeluarkan dalam suatu clutch adalah 27 jam. Ovulasi pada ayam secara normal terjadi 30 menit setelah telur sebelumnya dikeluarkan. Jika sebutir telur keluar setelah pukul 14.00, ovulasi berikutnya tidak akan terjadi dalam waktu 16 – 18 jam (Blakely dan Bade, 1998). Hal ini berkaitan dengan kurangnya cahaya yang menstimulasi kelenjar pituitary untuk mensekresikan FSH yang merangsang kerja ovarium (Suprijatna et al., 2005).
Pemberian Pakan untuk Mengoptimalkan Kalsifikasi Cangkang
          Sumber kalsium untuk produksi cangkang telur yaitu dari pakan dan tulang. Secara normal berasal langsung dari pakan, tapi ada juga yang berasal dari timbunan kalsium tulang medulair terutama pada malam hari apabila ayam tidak makan (Suprijatna et al., 2005). Pakan yang dikonsumsi pada umumnya sudah habis tercerna pada saat pembentukan cangkang. Kalsium pakan yang tertinggal di saluran pencernaan sangat sedikit. Jika absorbsi kalsium yang ada tidak memenuhi kebutuhan pembentukan cangkang, kalsium diambil dari tulang (Riczu dan Korver, 2009).
          Pakan ayam petelur fase layer harus mengandung 3 – 4% kalsium (Harms et al., 1996). Rata-rata kebutuhan kalsium untuk ayam petelur tipe medium umur 21 – 40 minggu yaitu 3,00% sedangkan untuk umur lebih dari 40 minggu yaitu 3,25% (North dan Bell, 1990).
          Metode pengaturan waktu pemberian pakan yang efektif untuk mengoptimalkan kalsifikasi cangkang telah diteliti, salah satunya yaitu metode midnight feeding.Midnight feeding diterapkan dengan menyalakan lampu untuk menstimulasi ayam supaya mengkonsumsi pakan pada malam hari. Midnight feeding terbukti dapat meningkatkan kualitas cangkang telur dari segi ketebalan, kekuatan, persentase cangkang dari telur yang keluar pada pagi hari, yaitu sekitar jam 09.00 (Harms et al., 1996). Saat midnight feeding lampu dinyalakan selama  45 – 60 menit pada tengah malam agar ayam mengonsumsi pakan dan memperoleh tambahan kalsium langsung dari saluran pencernaan untuk pembentukan cangkang (Riczu dan Korver, 2009). Upaya lain adalah menggunakan bahan pakan sumber kalsium yang memiliki kelarutan rendah, yaitu lambat diabsorbsi ke dalam darah sehingga jumlah kalsium yang tersedia pada malam hari mencukupi untuk proses pembentukan cangkang (Hendrix Genetic Company, 2009).
Kualitas Eksterior Telur
          Kualitas eksterior telur antara lain ditentukan oleh cangkangnya, yaitu meliputi kebersihan, bentuk, tekstur, dan keutuhan. Keutuhan cangkang dinilai berdasarkan ada tidaknya retak pada cangkang sehingga sangat tergantung pada ketebalan dan kekuatan cangkang. Kekuatan cangkang berkaitan dengan suplai kalsium yang diperoleh saat proses pembentukan cangkang (Jacob et al., 2009). Telur ayam dengan bobot 58 g memiliki persentase cangkang sebesar 12,3% (Austic dan Nesheim, 1990). Spesifikasi telur ayam standar adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Spesifikasi Telur Ayam Standar
Parameter
Ukuran
Bobot (ons)
2,0
Bobot (g)
56,7
Volume (cm3)
63,0
Gravitas khusus
1,09
Panjang keliling (cm)
15,7
Lebar keliling (cm)
13,7
Indeks bentuk
74,0
Luas permukaan (cm2)
68,0
Sumber: Suprijatna et al., 2005.
Standar kualitas cangkang telur strain ISA Brown adalah sebagai berikut:
Tabel 2. Standar Kualitas Cangkang Telur Strain ISA Brown
SWUSA (mg/cm2)
Bobot Cangkang (g)
Ketebalan Cangkang (┬Ám)
75,6
5,27
302
74,3
5,21
290
74,0
5,23
296
73,7
5,16
294
73,0
5,05
286
70,9
4,97
280
Sumber: Hendrix Genetic Company, 2009.
DAFTAR PUSTAKA
Austic, R.E. dan M.C. Nesheim. 1990. Poultry Production. Lea and Febiger, Philadelphia.
Blakely, J. dan D.H. Bade. 1998. Ilmu Peternakan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta (Diterjemahkan Oleh B. Srigandono).
Harms, R.H., C.R. Douglas, dan D.R. Sloan. 1996. Midnight Feeding of Commercial Laying Hens can Improve Eggshell Quality. Journal of Poultry Applied Science Resources 5:1 -5.
Hendrix Genetic Company. 2009. ISA Brown Nutritional Management Guide.http://www.isapoultry.com. Diakses tanggal 12 Maret 2011 pk.20.04.
Jacob, J.P., R.D. Miles, dan F.B. Mather.2009. Egg Quality.InstituteofFoodand AgriculturalSciencesUniversityofFlorida,Gainesville.
North, M.O. dan D.D. Bell. 1990. Commercial Chicken Production Manual. VanNostrand Reinhold,New York.
Riczu, C. dan D. Korver. 2008. Effects of Midnight Feeding on the Bone Density and Egg Quality of Brown and White Table Egg Layers. Canadian Poultry Magazine (7): 35 – 38.
Roland, D.A., Sr. dan  RH. Harms, 1974. Specific Gravity of Egg in Relation to Egg Weight and Time of Oviposition. Journal of Poultry Sci. 53: 1494-1498.
Scott, M.L, S.J. Hull, and P.A. MulIenhoff, 1971.The Calcium Requirements of Laying Hens and Effects of Dietary Oyster Shell upon Eggshell Quality. Journal of Poultry Sci. 50: 1055-1063.
Suprijatna, E., U. Atmomarsono, dan R. Kartasudjana. 2005. Ilmu Dasar Ternak    Unggas. Penebar Swadaya, Jakarta.

Suprijatna, E. dan R. Kartasudjana. 2006. Manajemen Ternak Unggas. Penebar Swadaya, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar di sini, tapi gunakan bahasa yang sopan & jangan menyinggung suku, agama / ras