Senin, 14 Oktober 2013

PROSPEK PENGGUNAAN SERANGGA SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN PAKAN SUMBER PROTEIN BAGI UNGGAS

PENDAHULUAN
            Biaya pakan berkontribusi sebesar 70 – 75% dari total biaya produksi peternakan unggas, khususnya ayam broiler (Teguia dan Beynen, 2005; Mupeta et al., 2003). Harga bahan pakan terus meningkat karena adanya peningkatan jumlah peternakan unggas (Hassan et al., 2009). Biaya pakan peternakan unggas di Botswana bahkan mencapai 70 – 80% dari total produksi. Hal ini disebabkan karena sebagian besar bahan pakan masih diimpor dari luar Botswana. Harga ransum komersial mahal dan tidak terjangkau oleh peternak rakyat. Ketersediaanya juga terbatas, sedangkan permintaan terhadap bahan pakan yang murah terus meningkat. Menurut Gabriel et al. (2007), penggunaan bahan pakan lokal dapat menekan biaya produksi.
tren harga pakan unggas yang cenderung selalu meningkat

            Kandungan protein menentukan harga bahan pakan sehingga alternatif bahan pakan yang murah dengan kandungan protein tinggi terus diupayakan. Serangga berpotensi sebagai sumber protein yang murah dan kontinuitasnya terjamin karena banyak tersedia di alam. Tepung serangga dapat dijadikan bahan pakan pengganti tepung ikan baik sebagian maupun keseluruhan karena kandungan proteinnya yang tinggi. Selain itu, pemanfaatan  serangga sebagai bahan pakan memiliki keuntungan seperti mengurangi hama tanaman dan polusi lingkungan akibat penggunaan pestisida. Namun kandungan kitin pada serangga harus dipertimbangkan karena dapat mempengaruhi kecernaan protein.
            Artikel ilmiah  ini bertujuan untuk mengulas potensi beberapa jenis serangga, seperti ulat phane, belalang, jangkrik, dan belatung sebagai alternatif bahan pakan sumber protein untuk unggas, terutama sebagai pengganti tepung ikan yang harganya lebih mahal. Ulasan ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai berbagai bahan pakan alternatif asal serangga yang murah dan sesuai untuk unggas.


 PEMBAHASAN

            Ulat phane telah banyak digunakan untuk konsumsi penduduk Botswana  dalam bentuk dikeringkan, direbus, dipanggang, atau digoreng. Ulat ini dikenal sebagai protein hewani termurah di beberapa negara Afrika. Ulat phane adalah larva awal dari ngengat Imbrasia belina yang hidup pada tanaman Colophospermum mophane (Motshegwe et al., 1998). Potensi ulat phane sebagai bahan pakan unggas cukup besar karena kaya akan  asam amino esensial. Kandungan protein kasar tepung ulat phane  mencapai 55%; abu 5,8%; lemak kasar 16,7%; kalsium 16,0 mg/g; fosfor 14,7 mg/g; natrium 33,3mg/g; dan kalium 35,2 mg/g. Ulat phane  mengandung kitin, yaitu komponen rangka luar serangga yang mencapai 27% dari bobot keringnya. Kitin dapat  menghambat akses enzim pencernaan untuk menghidrolisis protein dan lemak sehingga mengurangi kecernaannya  (Mahata et al., 2008). Menurut penelitian Mareko et al. (2010), daging ayam broiler yang diberi 40% tepung ulat phane mengandung mineral kalium, natrium, dan fosfor lebih banyak daripada yang hanya diberi 20%.
Ulat Phane yang banyak terdapat di Afrika

Ngengat Imbrasia belina


            Belalang memiliki kandungan nutrien tinggi, yaitu 71,55% protein kasar; 5,75% lemak; 2,50% mineral; 3,89% serat kasar apabila kandungan bahan keringnya 100% (Melo et al., 2011). Kandungan protein bervariasi sebesar 28,13 – 53,38% tergantung fase pertumbuhan dan daerah. Menurut Hassan et al. (2009), tepung belalang sebanyk 0%, 50%, dan 100% dapat menggantikan penggunaan tepung ikan dalam ransum ayam broiler secara signifikan.


            Jangkrik berperan penting bagi nutrisi manusia di Afrika Barat. Menurut Adeyeye dan Awokunmi (2010), kandungan protein kasar, karbohidrat, dan lemak jangkrik coklat (Brachytrypes membranaceus L.) jantan lebih rendah daripada jangkrik betina, namun kandungan seratnya lebih tinggi. Jangkrik merupakan sumber Fe, Zn, K, Na dan P yang baik.  Berdasarkan hasil penelitian Finke et al. (1985) mengenai kualitas protein jangkrik Mormon (Anabrus simplex Haldeman) pada ransum ayam broiler menunjukkan bahwa pertambahan bobot dan konversi ransum antara ayam yang diberi ransum jangkrik dan ransum jagung-bungkil kedelai tidak berbeda nyata. Nakagaki et al. (1987) meneliti hal yang sama, dan menenukan bahwa konversi ransum lebih baik secara signifikan apabila ransum disuplementasi metionin dan arginin. Jangkrik lapangan (Gryllus testaceus) mengandung 58,3% protein kasar pada basis bahan kering dengan lemak 10,3%. Kandungan lemak tepung jangkrik lebih tinggi daripada tepung ikan, meat bone meal, maupun bungkil kedelai. Kandungan lisin, metionin, dan sistein tepung jangkrik yaitu 4,79%, 1,93% dan 1,01% sehingga lebih tinggi daripada tepung ikan (4,51%, 1,59% dan 0,49%). Kecernaan asam amino tepung jangkrik lapangan yaitu 92,9% sehingga lebih tinggi daripada tepung ikan, yaitu 91,3% (Wang et al., 2005). Hal ini menunjukkan bahwa tepung jangkrik potensial sebagai bahan pakan sumber protein untuk substitusi tepung ikan.

Anabrus simplex (jangkrik Mormon)

Brachytrypes membranaceus (jangkrik coklat)

Gryllus testaceus (jangkrik lapangan)

            Belatung merupakan larva lalat rumah (Musca domestica) yang memiliki kandungan nutrien tinggi. Menurut Odesanya et al. (2011), tepung belatung mengandung  86,0 ±0,47% kadar air; 10,03 ± 0,44% abu; 5,89 ± 0,05% serat kasar; 48,0% protein kasar; 31,76± 0,02% lemak kasar; dan 3755 ± 190 kkal/kg energi. Variasi kandungan protein kasar tergantung pada kualitas lingkungan dan makanan belatung (Fasakin et al., 2003) sertametode pemrosesan, pengeringan, dan penyimpanan. Menurut Fashina-Bombata dan Balogun (1997), pembuatan 1 kg tepung belatung 20% lebih murah daripada 1 kg tepung ikan. Menurut penelitian Okah dan Onwujiariri (2012), penggunaan 4% tepung ikan dengan 50% tepung belatung pada ransum finisher ayam broiler menghasilkan performans yang lebih baik dan ekonomis daripada ransum basal. Penelitian Hwangbo et al. (2009) menunjukkan bahwa ransum yang mengandung 10 – 15% tepung belatung dapat meningkatkan persentase karkas, kualitas karkas, dan performans ayam broiler. Menurut Akpodiete et al. (1998), penggunaan  tepung belatung sebagai pengganti tepung ikan dalam ransum ayam petelur tidak berdampak buruk bagi performans dan karakteristik kualitas telur. Kolesterol kuning telur dan konsentrasi kalsium telur secara signifikan menurun jika level tepung belatung ditingkatkan.


            Larva ngengat  Hawk (Agrius convolvuli L.) merupakan sumber protein hewani masyarakat pedesaan di Botswana yang banyak ditemukan di musim hujan (Oktober-Januari) namun belum ada penelitian yang dilakukan untuk mengevaluasi kandungan nutrien dan pengaruhnya terhadap ternak.

Agrius convolvuli (kiri) dan larvanya (kanan)

            Dari kelima jenis serangga yang diulas dalam artikel Moreki et al. (2012) ini, belatung memiliki kontinuitas paling stabil karena tersedia sepanjang tahun. Belalang dan jangkrik sulit diperoleh pada bulan Juni dan Juli, ulat Phane sulit diperoleh pada bulan Juni sampai September, sedangkan larva A. convolvuli hanya melimpah selama Oktober sampai Desember. Untuk menjamin kontinuitas bahan pakan unggas, serangga yang selalu tersedia sepanjang tahun seharusnya dapat dimanfaatkan secara optimal.

SIMPULAN

            Dapat disimpulkan bahwa serangga berpotensi sebagai bahan pakan unggas yang tinggi protein untuk menggantikan tepung ikan atau ransum komersial. Serangga yang potensial sebagai bahan pakan unggas yang murah dengan kontinuitas terjamin yaitu belatung (larva lalat) karena selalu tersedia sepanjang tahun. Serangga lainnya seperti belalang, jangkrik, maupun ulat juga memiliki profil nutrien yang unggul sebagai pengganti bahan pakan impor, namun tidak selalu tersedia sepanjang tahun. Penggunaan serangga untuk menggantikan tepung ikan dapat menekan biaya produksi dalam peternakan unggas tanpa berpengaruh negatif terhadap performans unggas dan produktivitasnya.

Sumber :

Moreki, J.C., B. Tiroesele, dan S.C. Chiripasi, 2012. Prospects of utilizing insects as alternative sources of protein in poultry diets in Botswana: a review. J. Anim. Sci. Adv. 2 (8): 649-658.