Selasa, 24 Desember 2013

Animal Research untuk Ilmu Pengetahuan, Salah atau Benar?


Istilah 

Penelitian dengan hewan disebut animal research/ animal testing / animal experimentation/ in vivo testing. Penelitian dengan hewan biasa dilakukan untuk tujuan ilmiah untuk diaplikasikan di bidang kesehatan, peternakan, dan berbagai industri. Penelitian dengan hewan bisa berupa penelitian yang bersifat ilmu murni, seperti genetika, biologi perkembangan, penelitian tingkah laku hewan - maupun ilmu terapan seperti prosedur pembedahan, xenotransplantasi, uji obat dan toksikologi termasuk uji kosmetik. 

Menurut The Bristish Union for the Abolition of Vivisection (BUAV), diperkirakan ada 100 juta hewan vertebrata digunakan untuk animal research setiap tahun, 10 - 11 juta di antaranya ada di Uni Eropa. Hewan yang biasa digunakan di lab adalah mencit (tikus putih), kelinci, marmut (guinea pig), dan ikan. Ada juga yang menggunakan anjing, kucing, burung, dan monyet. Percobaan in vivo di bidang peternakan umumnya menggunakan berbagai jenis hewan ternak (ayam, sapi, domba dsb.) sesuai tujuan penelitian. Penelitian bidang genetika biasanya menggunakan lalat buah Drosophila, namun tidak disebutkan dalam diagram di bawah ini karena tidak termasuk vertebrata.

Jenis vertebrata yang digunakan untuk animal research di Eropa 

Penelitian yang menggunakan hewan sebagian besar diaplikasikan untuk kesehatan manusia

Alasan Dilakukannya Animal Research

Dapat dilihat pada gambar di bawah ini, bahwa animal research dilakukan dengan alasan :
  • Untuk mempelajari bagaimana penyakit berkembang, dan mempelajari bagaimana reaksi & tingkah laku organisme maupun fungsi organnya
  • Hewan vertebrata yang banyak digunakan dalam animal research adalah tikus putih (mencit). Mencit memiliki kesamaan DNA dengan manusia sebanyak 99%, sehingga bidang kedokteran banyak menggunakannya untuk penelitian obat-obatan & metode penyembuhan penyakit


Sejarah 

Animal research sebenarnya telah dilakukan sejak abad ke 2 SM. Aristotle & Erasistratus merupakan yang pertama melakukan eksperimen pada hewan hidup. Galen, seorang dokter di abad ke-2 melakukan diseksi pada hewan & dikenal sebagai bapak vivisection. Avenzoar, dokter di abad 12 juga melakukan diseksi pada hewan untuk menentukan metode operasi sebelum diterapkan pada pasien manusia. Istilah animal testing, animal experimentation, animal research, in vivo testing, dan vivisection seolah memiliki arti yang sama, namun sebenarnya berbeda. Vivisection berarti melakukan diseksi atau pembedahan pada hewan hidup, yang saat ini memiliki konotasi buruk seperti menyiksa hewan. Uji toksikologi mulai berkembang sejak abad ke 19 hingga 20. Hukum peredaran obat menjadi lebih longgar, misalnya di AS obat dilarang beredar jika terbukti membahayakan konsumen.

File:Experiments with buckets animal parts Essai th orique et exp rimental sur le galvanisme 1804.jpg
Eksperimen dengan bagian-bagian tubuh hewan (dilukis oleh Giovanni Aldini pada tahun 1804)

A physiological demonstration with vivisection of a dog. Emile-Edouard Mouchy, oil painting, 1832.
Vivisection pada anjing (dilukis oleh Emile-Edouard Mouchy, 1832)

Pedoman

Prinsip 3R adalah pedoman etika penggunaan hewan untuk penelitian, konsep ini pertama kali disebutkan oleh W.M.S. Russel dan R.L. Burch pada tahun 1959. Prinsip 3R adalah:
  1. Replacement (penggantian) : sedapat mungkin dilakukan metode non-hewan untuk mencapai tujuan ilmiah yang sama, salah satunya dengan metode in vitro
  2. Reduction (pengurangan) :  peneliti sebaiknya mengurangi jumlah ulangan dalam penelitiannya jika memungkinkan, sehingga tidak banyak hewan yang digunakan untuk eksperimen
  3. Refinement (perbaikan) : sebaiknya menggunakan metode untuk meminimalkan atau menghilangkan potensi rasa sakit, penderitaan atau distress. Konsep animal welfare harus diterapkan.


Pro dan Kontra
Ada beberapa pro & kontra terkait dengan animal research
PRO
  • Perkembangan di bidang kedokteran tak lepas dari animal research, misalnya transplantasi organ, insulin, dan vaksin
Insulin untuk pengobatan diabetes

 
Animal research berperan penting dalam penemuan  vaksin, obat & health treatment yang bisa diaplikasikan untuk manusia
  • Animal research adalah cara yang akurat untuk mengetahui pengaruh suatu zat & keamanannya pada organisme. Uji in vitro dikembangkan sebagai pengganti (replacement) untuk animal testing. Dalam uji in vitro, manusia mendonorkan sel kulit untuk uji alergi kosmetik & sel retina untuk uji iritasi mata. Namun uji tersebut hanya berlaku di tingkat sel atau jaringan. Kita tidak bisa mengetahui bagaimana efeknya terhadap organ, sistem organ, maupun organisme hidup. Bisa saja zat tersebut aman untuk sel retina, namun ternyata membawa dampak buruk untuk sel-sel tubuh yang lain. Model komputer juga digunakan sebagai pengganti in vivo testing, namun prediksinya sering tidak tepat 
Perbandingan antara uji in vitro & in vivo.
Uji in vitro kurang akurat jika dibandingkan dengan in vivo

  • Mengurangi resiko terhadap manusia. Peneliti tidak mungkin menggunakan manusia untuk uji zat atau obat secara in vivo karena tidak etis. Namun pada jaman perang dunia ke-2 ada seorang mikrobiologis Jepang bernama Shiro Ishii yang menjabat sebagai letnan jenderal di Unit 731 (unit senjata biologis) dari Angkatan Perang Kekaisaran Jepang. Pada tahun 1942 dia melakukan tes pada manusia untuk pengembangan senjata biologis, korbannya adalah para tawanan perang. Para ahli sejarah memperkirakan ada 10 ribu orang tawanan yang menjadi korban. Tes-tes tersebut sangat kejam, melibatkan vivisection saat korban masih hidup dan tanpa anestesi; aborsi; simulasi stroke, serangan jantung, hipotermia; dan uji infeksi bakteri (mencakup bubonic plague/sampar, kolera, antraks, dsb.)
Shiro Ishii melakukan vivisection pada seorang tawanan perang di unit 731 dalam keadaan korban masih hidup dan tanpa anestesi

KONTRA
  • Biaya untuk uji in vivo pada hewan lebih mahal, karena perlu biaya pakan, perawatan, kandang, kontrol lingkungan, dan breeding. Hewan untuk animal research banyak yang berasal dari breeding farm untuk memastikan kejelasan silsilah genetik. Penggunaan hewan untuk eksperimen perlu banyak ulangan, tidak bisa digunakan seekor hewan saja, gunanya untuk meminimalisir galat (kesalahan) percobaan
Prinsip reduction (pengurangan) dari konsep 3R agak sulit dilakukan
Semakin sedikit jumlah ulangan percobaan, semakin besar kesalahan yang dihasilkan sehingga penelitian menjadi tidak valid
  • Moralitas : Kita semua setuju bahwa hewan punya hak untuk hidup, membunuh hewan untuk kepentingan manusia itu tidak dibenarkan. Seharusnya animal research mengutamakan animal welfare, namun kenyataannya banyak hewan menderita dan cacat. 
Animal research banyak ditentang karena seringkali menyebabkan cacat pada hewan

  • Etika : penelitian bidang rekayasa genetika pada hewan yang menciptakan organ untuk manusia seringkali dianggap kurang etis.
Tikus dengan daun telinga, diciptakan oleh Joseph & Charles Vacanti pada tahun 1997 
Sel kartilago sapi diimplan pada punggung tikus untuk keperluan bedah konstruktif & bedah plastik

  • Khasiat : Tidak semua produk yang diujikan pada hewan berkhasiat pada manusia. Misalnya untuk kosmetik yang diuji dengan animal testing, seringkali menyebabkan alergi atau iritasi pada sebagian orang. Pada tahun 1937 terjadi keracunan massal di AS akibat elixir sulfanilamide (antibiotik), yang membunuh lebih dari 100 orang. Oleh karena itu, animal testing tidak bisa dijadikan sebagai indikator keamanan produk, uji klinis sangat perlu dilakukan.
Elixir Sulfanilamide

Kesimpulannya, animal research memiliki banyak sisi pro dan kontra. Animal research terbukti telah mampu menyelamatkan nyawa banyak manusia, namun masalah animal welfare dan etika juga selalu menjadi pertimbangan.

Semua makhluk berhak hidup, namun kita harus memilih - seekor tikus atau seorang anak manusia?

Jika kita berhenti melakukan animal research, siapakah yang akan menghentikan perkembangan penyakit?

Animal testing di industri kosmetik - demi apa? 
Banyak wanita bangga memakai brand kosmetik di atas, tanpa mengetahui sisi kekejamannya. Sebenarnya banyak alternatif brand kosmetik yang animal cruelty free, yang terbukti aman bagi konsumen

Lentiknya bulu mata Anda dari kebutaan mereka
Sempurnanya bedak Anda dari iritasi mereka

Kita harus bijak, tidak semua animal research harus ditentang, terutama jika itu berguna untuk mengatasi penyakit berbahaya yang mengancam nyawa manusia & hewan. Kita bisa kontra terhadap animal research yang tujuannya tidak vital, misalnya brand kosmetik dan personal care products yang menerapkan animal testing.

all creatures deserve to live

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar di sini, tapi gunakan bahasa yang sopan & jangan menyinggung suku, agama / ras