Rabu, 25 Desember 2013

Evil Doctors (Warning! Very Disturbing Pictures)

PERHATIAN, ARTIKEL INI MENGANDUNG GAMBAR-GAMBAR SADIS

Shiro Ishii, Dokter Sadis dari Jepang


Shiro-ishii.jpg


Dia dijuluki doctor death & dr.evil bukan tanpa alasan. Shiro Ishii (lahir 25 Juni 1892, mati 9 Oktober 1959) adalah seorang mikrobiologis Jepang yang berpangkat letnan jenderal di unit 731, yaitu unit senjata biologis di militer kekaisaran Jepang. Dia lulus dari Kyoto Imperial University, menjadi dokter pada tahun 1920. Awal kariernya pada tahun 1921 adalah sebagai dokter bedah militer, kelas kedua (letnan). Dia dikenal sebagai dokter yang brilian, dua tahun kemudian dia mengambil spesialis di Kyoto Imperial University. Pada tahun 1925 dia dipromosikan sebagai dokter bedah kelas pertama (kapten). Pada tahun 1928 dia memulai perjalanan 2 tahun ke barat, melakukan penelitian ekstensif tentang senjata biologis & kimia. Dia dipromosikan sebagai dokter bedah senior (kelas ketiga, mayor) pada Januari 1931, dan sebagai kolonel pada tahun 1935. 

Serangan Jepang ke Manchuria pada 1931 memberi kesempatan pada Ishii untuk melakukan percobaan pada manusia. Ishii membawahi 300 orang pasukan yang disebut unit Tongo.


peta lokasi pengembangan senjata biologis pasukan Jepang

Shiro Ishii dan Unit 731



Pada tahun 1936, unit 731 dibentuk. Unit tersebut dibangun oleh buruh kerja paksa China. Ukurannya sangat besar, terdiri atas 150 bangunan di atas lahan seluas 6 km persegi di pinggiran kota Harbin, China. Penelitian di unit 731 sangat dirahasiakan, bahkan disebutkan bahwa unit 731 hanya meneliti purifikasi air untuk persediaan air minum. Orang China menyebut Unit 731 sebagai penjara Zhong Ma. Lebih dari 500 orang ditahan di penjara tersebut karena dianggap kriminal & mencurigakan. Pasukan Jepang menyebut tahanan sebagai "maruta".


Unit 731
Unit 731 dekat Harbin


Ishii memulai penelitian lapangan tentang pengembangan senjata biologis menggunakan mikroba, dan berbagai uji ledakan (dengan granat, bom, dsb.) Objek penelitiannya adalah para tawanan perang China di unit 731, hasil penelitiannya diaplikasikan untuk membunuh warga di kota-kota China. Banyak orang tewas akibat senjata biologis seperti penyakit sampar (plague), antraks, cacar, kolera, tifus, disentri, dan botulisme. 


Percobaan yang dilakukan terhadap tawanan perang di unit 731 sangat kejam, meliputi vivisection pada manusia hidup, aborsi paksa, uji infeksi, simulasi stroke, serangan jantung, hipotermia. Para tawanan perang dipaksa untuk menghirup udara & makan makanan yang terkontaminasi, juga disuntik mikroba patogen. Korban juga diekspos dengan ledakan untuk uji bom, direbus hidup-hidup, dibunuh dengan sentrifuse besar. Ada mesin pendingin besar untuk simulasi hipotermia, para korban ditempatkan di sana dengan suhu rendah yang ekstrim untuk menentukan metode penanganan hipotermia. Disediakan tanur besar untuk memusnahkan tubuh para korban.


Ketika Ishii menginginkan otak manusia untuk ekperimen, tentaranya membelah tengkorak seorang tawanan dengan kapak untuk memperoleh otak sesegera mungkin. Tawanan yang disuntik bakteri sampar (bubonic plague) dan antraks mengalami demam hingga 40 derajat celsius selama 12 hari, korban yang bertahan dari infeksi masih hidup 19 hari sebelum dilakukan vivisection. Tawanan juga diracuni dengan gas phosgene atau disuntik potasium sianida, ada juga yang dialiri listrik dengan tegangan 20.000 volt. Semuanya didokumentasi untuk keperluan observasi di unit 731.


Unit 731 mampu memproduksi 300 kg bakteri per bulan dan menyebabkan wabah penyakit di Manchuria pada tahun 1940an. Mereka mengkontaminasi sumber air minum, melepas kutu pembawa bakteri, menjatuhkan gandum yang terkontaminasi dari pesawat. Ishii dan orang-orangnya menyebabkan kematian banyak orang China, dan mungkin ratusan orang Rusia & pasukan sekutu yang menjadi tawanan perang.


Ishii sempat mempublikasikan artikel ilmiah mengenai hasil penelitiannya, tetapi saat itu dia mengklaim bahwa eksperimennya menggunakan monyet.


Ishii melakukan vivisection pada seorang tawanan China tanpa anestesi

Gergaji dan kait yang digunakan untuk amputasi dan pengambilan organ

Ranjang penyiksaan untuk mengamati reaksi korban terhadap rasa sakit

Tangan korban yang telah terinfeksi antraks

Tubuh para korban yang akan dimusnahkan setelah eksperimen

Unit 731
Percobaan dengan gas beracun

Unit 731
Diseksi pada anak kecil

 Unit 731
Vivisection pada seorang gadis yang hamil setelah diperkosa

Wajah wanita ini terbakar karena disembur dengan gas fosfor

Wanita yang mengalami gangrene karena diinfeksi dengan Clostridium perfringens

Wanita Rusia yang mati setelah uji bom

Vivisection pada wanita hamil untuk melihat efek perlakuan pada fetus

Shiro Ishii Tidak Dihukum atas Perbuatannya


Tindakan yang dilakukan di Unit 731 adalah kejahatan perang tingkat tinggi. Shiro Ishii memalsukan kematiannya pada tahun 1945 dan pergi bersembunyii, namun ia dan orang-orangnya berhasil ditangkap & ditahan oleh pihak berwenang AS. Interogator dari Fort Detrick memimpin interogasi. Awalnya Ishii  tidak bersedia memberikan keterangan, namun ia menyadari bahwa pihak Soviet juga ingin menginterogasinya, dan cara interogasi Soviet mungkin lebih keras daripada AS. Oleh karena itu Ishii menawarkan untuk membeberkan hasil eksperimennya asalkan ia diberi imunitas (tidak diproses secara hukum). Pihak AS menyetujuinya karena mereka ingin mempelajari tentang senjata biologis namun AS tidak mungkin melakukan eksperimen sendiri. Akhirnya Ishii memperoleh imunitas  pada tahun 1946. Ishii mati sebagai orang bebas pada tahun 1959 (usia 67 tahun) akibat kanker tenggorokan.

Dokter Nazi yang Sadis: Josef Mengele

Selain Shiro Ishii, ada juga dokter Nazi yang melakukan eksperimen pada manusia, yaitu Josef Mengele (16 Maret 1911 - 7 Februari 1979). Dia bekerja di Camp Auschwitz, salah satu camp Nazi di Polandia. 

josef mengele experiments. of Death#39; Josef Mengele to
Josef Mengele

Dia mendalami penelitian tentang hereditas & tertarik mempelajari tentang anak kembar. Dia menggunakan anak-anak dan wanita  untuk eksperimen, khususnya anak kembar (sebagian besar adalah anak Yahudi dan Gypsy).

Pasangan anak kembar dijahit menjadi satu, masing-masing dipotong tungkai & lengannya. Amputasi, pembedahan untuk pengangkatan ginjal dan tungkai, transplantasi organ, operasi pengubahan jenis kelamin dilakukan tanpa anestesi. Banyak yang meninggal karena infeksi parah dan kesakitan. Dia melakukan eksperimen untuk mengubah warna mata anak-anak dengan meneteskan cairan kimia ke mata mereka. Pada tahun 1943 dia melakukan eksperimen pada tahanan wanita, melakukan sterilisasi paksa dan terapi elektrokonvulsif. Dia juga melakukan vivisection pada wanita hamil untuk melihat perkembangan fetus.

Dia juga melakukan eksperimen malaria, simulasi hipotermia dan pembekuan, uji benturan kepala, gas beracun, ledakan gas fosforus, transplantasi organ, dan uji antibiotik. Korban diinfeksi dengan bakteri Clostridium perfringens, Streptococcus, C. tetanii  untuk melihat efektivitas  antibiotik sulfonamide. 


anak-anak yang menjadi korban

anak kembar dijahit menjadi satu untuk menghasilkan conjoined twins (kembar siam)

tiap anak kembar dihilangkan satu tungkainya untuk membentuk conjoined twins 

eksperimen pada mata anak-anak

percobaan hipotermia, korban dimasukkan dalam air dingin

Tumpukan tubuh korban

Nyawa manusia seperti tidak berharga di sini. Benar-benar mengerikan..

Sumber :
http://www.environmentalgraffiti.com
http://www.toddlertime.com/bobbystringer/unit-731.htm
http://www.jesus-is-savior.com/Disturbing%20Truths/unit_731_atrocities.htm
http://patriotdems.wordpress.com/2009/08/29/shiro-ishii-japans-medical-monster/shiro-ishii/
http://www.pbs.org/wgbh/americanexperience/features/biography/weapon-biography-shiro-ishii/
http://en.wikipedia.org/wiki/Shir%C5%8D_Ishii
http://en.wikipedia.org/wiki/Josef_Mengele
http://la8period3.pbworks.com/w/page/25942446/Joesef%20Mengele's%20Decison



6 komentar:

  1. Fotonya serem amaaat..sadisss!! Apalagi yg korban anak2 itu, kasian... Kok ada ya dokter kayak gitu??

    BalasHapus
    Balasan
    1. kan sudah diperingatkan? artikel ini mengandung gambar-gambar sadis
      mungkin aja jiwanya udah mati, nggak punya perasaan takut & iba lagi..

      Hapus
  2. Sekarang nggak mungkin lagi ada penelitian melanggar etik kayak gini. Tugas kita nih sebagai mahasiswa mengkritisi penelitian/ jurnal yang intervensinya merugikan responden :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, jelas nggak mungkin sekarang ada penelitian kayak gini, kalo ada pun pasti penelitinya udah ditangkap & dihukum.
      ya, betul.. tapi masalahnya penelitian yg kayak gitu pasti dirahasiakan hehehe..

      Hapus
  3. ya ampun mba ,,,,baru tau aku,,,ih sadis bener dokternya menyalahkan ilmu,,thanks ya mba infonya

    BalasHapus
    Balasan
    1. jaman perang memang banyak yg sadis, tapi mereka dianggap nasionalis (?) karena berinisiatif melakukan apa aja supaya negaranya menang.
      sama2..

      Hapus

Silahkan berkomentar di sini, tapi gunakan bahasa yang sopan & jangan menyinggung suku, agama / ras