Jumat, 21 Maret 2014

L-lisin dan Interaksinya dengan Beberapa Zat

Lisin merupakan salah satu dari 4 asam amino pembatas utama dalam ransum unggas. Asam amino pembatas lainnya adalah metionin, triptofan, dan arginin. Sebagai aditif dalam pakan, lisin memiliki interaksi dengan beberapa jenis zat, baik asam amino lainnya, mineral, enzim, atau kondisi fisiologis.

struktur umum lisin

Karakteristik L-lisin yang Digunakan sebagai Aditif dalam Ransum Unggas

Jagung sebagai bahan pakan dengan persentase terbesar dalam ransum monogastrik memiliki kadar lisin yang rendah, karena itu bahan pakan tinggi protein seperti bungkil kedelai dan tepung asal hewani dicampur dengan jagung untuk memenuhi kebutuhan asam amino ternak monogastrik (unggas dan babi). 

Jagung adalah bahan pakan yang rendah lisin

 
Bungkil kedelai dan tepung ikan kaya protein dan asam amino 
namun tidak ekonomis jika banyak digunakan dalam ransum

Sebelum asam amino kristal dikomersialkan, peternak menyusun ransum yang berlebihan protein untuk memenuhi kebutuhan asam amino ternak sehingga menyebabkan pemborosan dan penurunan efisiensi protein. Penggunaan L-lisin dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan lisin tanpa kadar protein yang berlebihan.


L-lisin sebagai aditif pakan telah banyak diteliti, terbukti mampu menghasilkan peningkatan efisiensi pakan pada babi, peningkatan produksi karkas dan daging lean, serta penurunan biaya produksi. Pada unggas dihasilkan peningkatan produksi daging dada.

L-lisin yang dipasarkan adalah L-lisin HCl dengan kadar minimum 98,5% L-lisin monohidroklorida (basis bahan kering). Dikenal dengan nama Lysine hydrochloride, L-lysine hydrochloride, Lysine monochloride, L-lysine monochloride.


Bentuk fisiknya adalah kristal putih kekuningan. L-lisin HCl memiliki berat molekul 182,65 dengan rumus molekul C6H14N2O2HCI. 

Strukturnya yaitu


Kemurniannya sekitar 78,8% (as fed), atau 80,0% (BK). Kandungan BK 98,5%. Total nitrogen yaitu 18,9% dan protein kasar 118,0% (as fed).

Interaksi Lisin dengan Aditif Lainnya


  • Asam amino : Lisin berinteraksi dengan arginin. Arginin dan Lisin memiliki jalur transpor seluler yang sama. Kelebihan arginin dapat menyebabkan kompetisi dalam transportasi dan menyebabkan defisiensi lisin 
  • Antibakterial : beta lisin memiliki efek bakterisidal pada darah manusia (Crosato & Zanetti, 1967)
  • Antikoagulan dan antiplatelet : Berdasarkan  penelitian in vitro, L-lisin pada konsentrasi di bawah 0,05 M dapat menghambat fibrinolisis dan agregrasi platelet (Aisina et al., 1994)
  • Antilipemia : Pemberian L-lisin mono HCl dan L-triptofan dapat menurunkan level kolesterol dan trigliserida darah secara signifikan (Raja & Jarowski, 1975). Dosis lisin yang terlalu tinggi dapat meningkatkan kadar kolesterol pada ayam (Leszczynski & Kummerow, 1982)
  • Antiviral : lisin dikatakan efektif dalam pengobatan dan pencegahan infeksi herpes simplex (Simon et al., 1985)
  • Kalsium :  Suplementasi Ca dan L-lisin meningkatkan absorpsi Ca di usus dan meningkatkan pemanfaatannya di ginjal (Civitelli et al., 1992; Civitelli, 1993)
  • Karnitin: suplementasi pada pasien dengan intoleransi protein lysinuric meningkatkan kadar lisin dan karnitin dalam serum darah (Takada et al., 1987).
  • Immunosuppresant : pada uji in vitro, lisin dapat mengubah fungsi sistem imun dan mencegah aktivasi komplemen-1 (Takada dan Takada, 1992)
  • Protein : lisin dapat menghambat rebsorpsi beberapa peptida dan protein pada tubular ginjal (Gasworth dan Gattereau, 1968; ten Dam et al., 1991; Rustom et al., 1992)
  • Zat besi : L-lisin dan terapi ion mengurangi kerontokan rambut (Rushton, 2002)
  • Zinc : Lisin dapat mengikat zinc (Zn)dan meningkatkan ultrafilterabilitas ginjal (Ziotkin dan Buchanan, 1988)
Interaksi Lisin dengan Status Fisiologis
  • Albumin : Injeksi lisin pada pasien diabetes menghasilkan ekskresi albumin yang abnormal (Mogensen et al., 1979)
  • Amilase dan Lipase : injeksi lisin dosis tinggi pada tikus menybabkan sel acinar pankreas mengalami nekrosis oleh lemak, meningkatkan kadar amilase dan lipase serum (Kitajima dan Kishino, 1985)
  • Kepadatan tulang : L-lisin bermanfaat bagi kepadatan tulang, yaitu mencegah osteoporosis (Heather, 1965). Suplementasi L-lisin dapat meningkatkan proliferasi sel osteoblast, kombinasi antara L-lisin dengan L-arginin meningkatkan sintesis matriks dan aktivasi proliferasi sel (Toricelli et al., 2002)
  • Koagulasi darah : Konsentrasi lisin kurang dari 0,05 M menghambat fibrinolisis dan mempengaruhi agregasi keping darah (Aisina et al., 1994; Mohammad et al., 1979)
  • Fungsi ginjal : suplementasi L-lisin secara oral dapat meningkatkan risiko sindrom Fanconi, mencakup nefritis tubulointerstitial akut bahkan gagal ginjal kronis (Lo et al., 1996)
  • Elektrolit :  L-lisin dapat meningkatkan konsentrasi elektrolit plasma (Smulders et al., 1997)
  • Profil lemak : pemberian L-lisin mono HCl dan L-triptofan secara oral dapat menurunkan kolesterol dan trigliserida plasma (Raja dan Jarowski, 1975). Dosis lisin yang tinggi dapat meningkatkan kadar kolesterol pada ayam (Leszczynski dan Kummerow, 1982)
Sumber :


2 komentar:

Silahkan berkomentar di sini, tapi gunakan bahasa yang sopan & jangan menyinggung suku, agama / ras